Potret anak di bawah umur di wilayah Kutai Timur jelang lebaran (dok: Abd.R)

APBD Triliunan, Anak di Bawah Umur Ngamen di Jalan, Legislator Soroti Pemkab Kutim

Penulis : Redaksi
16 April 2024
Font +
Font -

Kutim -- Anggota DPRD Kutai Timur (Kutim) Hepnie Armansyah layangkan komentar terkait kesejahteraan anak di wilayahnya.

Hapnie geram buntut mengetahui keluhan warga soal anak-anak di bawah umur yang berkeliaran di pinggir jalan dan tak jarang diberi makan oleh pengendara.

Menurut laporan salah satu pengendara yang melintas, Abd.R, mirisnya hal itu terjadi jelang perayaan hari raya kemenangan umat Islam, Idul Fitri.

"Ijin -ijin, ini bagaimana solusinya anak-anak begini kok disuruh minta-minta di jalan, kehujanan. Ada nggak pihak yang berwenang bisa mengatasi ini," cecarnya usai menyaksikan salah satu anak yang terlentang di pinggir jalan, Selasa (9/4).

Disesalkannya, Kutim yang ditunjang APBD 9,1 Triliun per tahun 2024, akan tetapi dirinya mendapati pemandangan yang begitu memalukan. "Ijin kalo bisa ini ditiadakan lagi di Kutai Timur," pinta dia.

Baca Juga: Ilustrasi (foto: ist)Truk dengan Muatan Kayu 6 kubik Tanpa Izin Ditahan Polres Berau

Ia juga mengaku bakal melaporkan kejadian memalukan ini kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kelurga Berencana serta Dinas Sosial di wilayah setempat. "Senin akan saya sampaikan ke Dinas perlindungan anak dan sosial," tegasnya.

Hapnie pun merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Ia menerangkan bahwa hal itu bukan kemauan anak-anak, tetapi adanya didikan orang dewasa di sekitarnya untuk berbuat demikian.

"Janganlah begitu, nggak elok anak-anak kita diajarkan budaya seperti itu. Tidak mungkin anak-anak itu mau panas-panasan di pinggir jalan begitu kalo tidak ada yang suruh," ucap Hepnie.

Politisi PPP itu lebih jauh mengimbau dinas terkait untuk menegakkan secara persuasif, baik kepada anak-anak maupun orang tuanya.

"Kami harap dinas sosial segera tangani masalah seperti itu, namun jangan dengan gaya represif," imbuh Hapnie.

"Kalo ada teguran kan pasti ada reaksi dari mereka, jadi ini dimohon. Jangan sampailah budaya seperti itu menjalar ke anak-anak kita di Kutim ini," pungkasnya. (*)

Diketahui, kejadian itu berlangsung hingga beberapa hari pasca lebaran, tepatnya sampai (H+3) sebagaimana pantauan reporter di lapangan, pada Sabtu 13 April 2024. (*)

Font +
Font -