Dibaca
83
kali
Orang Utan di Taman Nasional Kutai (aset: Caca/katakaltim)

Keanekaragaman Hayati Bumi Etam 80 Persen Diwakili Taman Nasional Kutai, Balai TNK: Kenapa Terus Dicawe-cawe?

Penulis : Agu
11 September 2024
Font +
Font -

KALTIM — Setidaknya 80 persen keanekaragaman hayati Kalimantan Timur (Kaltim) diwakili oleh Taman Nasional Kutai (TNK). Begitu kata pihak Balai TNK saat ditemui katakaltim di Bontang, Senin (9/9) lalu.

“TNK itu mewakili 80 persen di Kaltim. Artinya keanekaragaman hayati di Kaltim sebagian besar ada di TNK, yang masih dilindungi,” ucap Pelaksana Teknis Balai TNK, Edy Purwanto.

Menurut dia, jika wilayah di luar kawasan TNK itu rusak, masih ada opsi untuk mengambil benih dari kawasan konservasi.

“Tapi kalau yang rusak adalah konservasinya, terus mau memperbaikinya dari mana?" cecar Edy.

Pohon sengkuang di Taman Nasional Kutai (aset: katakaltim)

Pohon Sengkuang di Taman Nasional Kutai (aset: katakaltim)

Lebih lanjut dia menerangkan semua kawasan hutan punya fungsinya masing-masing. Misalnya Hutan lindung, kalau itu dirusak pengaruhnya pasti banjir, longsor, erosi, termasuk kekeringan.

Baca Juga: Ketua Komisi C DPRD Bontang, Alfin Rausan Fikry, beri komentar soal tidak meratanya pembangunan infrastruktur di Bontang (aset: caca/Katakaltim)Pembangunan Infrastruktur Tidak Merata, Begini Tanggapan Ketua Komisi C DPRD Bontang

Pun demikian, Edy mengaku semakin hari populasi manusia kian meningkat. Membuat kebutuhan ruang hidup juga terus bertambah.

"Sementara ruang hidup yang banyak dan kosong itu biasanya ada di kawasan hutan, yang gak ada pemiliknya. Nah itulah yang dikejar oleh mereka," jelasnya.

Kepala Bagian Sub Tata Usaha TNK, Ananta Krisna menerangkan, TNK saat ini hanya memiliki luas 192.709 Hektar dari jutaan hektar sejak zaman Belanda.

Dibingungkan Ananta, karena kawasan semakin menyempit, tapi wilayah TNK justru kerap menjadi sasaran 'cawe-cawe' perluasan kawasan.

Padahal, kalau soal di bawah kawasan TNK terdapat batu bara, justru sepanjang wilayah Kalimantan juga sebenarnya ada.

“Tapi kenapa TNK terus yang dicawe-cawe?" cecarnya.

Lebih jauh dia menerangkan, tingginya keanekaragaman di TNK, merupakan potensi sumber daya alam (SDA) energi fosil yang tinggi.

“Minyak dan batu bara itu semua kan dari fosil-fosil keanekaragaman hayati yang tinggi," jelasnya.

Ananta mencontohkan Mesir yang saat ini dikenali sebagai salah satu negara dengan kekayaan SDA energi fosil tertinggi. Karena awalnya Mesir merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tidak main-main.

"Bisa kita lihat di Arca Piramida itu background-nya hutan pinus. Nah sebenarnya kalau ini pelepasan kawasan terus berlangsung, kita ini terancam. Makanya Indonesia itu (sebagiannya-red) diprediksi sebagai gurun pasir di masa mendatang," ungkapnya. (*)

Font +
Font -
# ePaper
Lebih Banyak >