Ilustrasi Social Anxiety Disorder cikal bakal gangguan skizofrenia (Foto: Cantika)

Sering Cemas? Kamu Wajib Tahu Social Anxiety Disorder Cikal Bakal Gangguan Skizofrenia

Penulis : Caca
3 January 2024
Font +
Font -

KATAKALTIM.COM -- Social anxiety disorder merupakan gangguan yang menyebabkan kecemasan atau ketakutan dalam lingkungan sosial. Gangguan kesehatan mental ini kerap dikenal sebagai fobia sosial.

Melansir laman Healthline, social anxiety disorder mengalami kesulitan untuk bicara dengan orang lain, bertemu orang baru, hingga menghadiri acara sosial. Muncul perasaan khawatir berlebihan jika orang lain mengamati hingga menghakimi.

Berbeda dengan perasaan malu, social anxiety disorder mengganggu kehidupan sehari-hari dan bersifat menetap. Dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti hubungan dengan orang lain, produktivitas dalam bekerja, dan prestasi di sekolah.

Baru-baru ini tercatat sebanyak 1.000 anak dan remaja di Sleman mengalami gangguan kecemasan atau anxiety pada tahun 2022.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Pembajun Setyaningastutie menjelaskan bahwa anxiety bukanlah termasuk skizofrenia atau gangguan jiwa berat.

Meski begitu, gejala ini diindikasikan dapat menjadi cikal bakal skizofrenia atau gangguan mental apabila tidak didampingi keluarga dan tidak ditangani sejak dini.

Adapun penderita gangguan kecemasan sosial akan mengalami beberapa perasaan atau tanda tertentu saat berinteraksi.

Berikut beberapa perasaan atau tanda saat mengalami Social anxiety disorder.

1. Rasa takut atau cemas yang intens saat berada dalam situasi sosial, seperti berbicara di depan umum, makan di depan orang lain, atau bertemu orang baru.

2. Gejala fisik, seperti jantung berdebar, keringat berlebih, mual, pusing, atau gemetar.

3. Menghindari situasi sosial yang membuat cemas.

4. Merasa malu atau rendah diri.

5. Merasa tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian.

Penyebab gangguan kecemasan sosial belum diketahui secara pasti, tetapi diduga dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan pengalaman masa lalu.

Faktor genetik dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kecemasan sosial, jika ada anggota keluarga yang juga mengalami gangguan ini.

Faktor lingkungan, seperti pelecehan atau bullying, juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kecemasan sosial.

Pengobatan gangguan kecemasan sosial dapat dilakukan dengan terapi perilaku kognitif (CBT) atau obat-obatan.

Terapi perilaku kognitif dapat membantu penderita untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang dapat memperburuk kecemasan.

Obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan sosial antara lain antidepresan dan obat penenang.

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, para penderita fobia sosial menyadari bahwa rasa takut dan cemas yang dialaminya itu berlebihan, bahkan tidak wajar.

Namun, kebanyakan dari mereka tidak tahu cara mengatasinya. Kami telah menghimpun beberapa cara untuk mengatasi kondisi fobia sosial.

1. Pengobatan medis

Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi fobia sosial harus sesuai petunjuk dan di bawah pengawasan dokter, karena tidak bisa digunakan secara sembarangan.

Beberapa jenis obat yang umumnya digunakan adalah paroxetine atau sertraline. Pada sebagian penderita, gejala fobia sosial dapat berkurang dengan rutin minum obat.

Namun, sebagian penderita lainnya mungkin tidak merasa lebih baik dengan mengonsumsi obat-obatan ini. Bahkan, gejala bisa muncul kembali bila pemakaian obat dihentikan.

Pemakaian obat juga mungkin saja menimbulkan efek samping, yaitu mual, sakit perut, sakit kepala, dan sulit tidur.

2. Psikoterapi

Metode pengobatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi fobia sosial adalah terapi perilaku dan cognitive behavioral therapy (CBT).

Terapis akan membantu penderita mengenali rasa takut sekaligus melatih untuk mengubah rasa takut dan cemas menjadi rasa yang lebih menyenangkan.

Penderita akan dilatih menyadari bahwa keadaan tersebut sebenarnya tidak perlu terlalu ditakuti dan dicemaskan.

Terapi ini dimulai dengan menghadapkan penderita dengan situasi tidak nyaman yang bersifat ringan, kemudian perlahan ditingkatkan.

Keuntungan dari terapi ini tidak hanya menyembuhkan gejala, tapi juga fobia sosial itu sendiri.

Ketika penderita sudah berhasil sembuh, kecil kemungkinan fobia sosial datang lagi.

3. Terapi relaksasi

Dalam terapi ini, penderita akan diajarkan teknik pernapasan dan meditasi.

Dengan demikian, penderita juga bisa melakukan relaksasi sederhana di rumah, sehingga merasa lebih santai dan seiring waktu fobia sosial bisa sembuh. (*)

Font +
Font -