KUTIM – Keterbatasan anggaran operasional menjadi kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Kebutuhan bahan bakar hingga biaya perawatan kendaraan pemadam belum sepenuhnya terpenuhi.
Camat Bengalon Muhammad Harun Al Rasyid mengatakan, meski posko siaga karhutla dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah tersedia, operasional kendaraan masih menghadapi keterbatasan biaya.
Menurutnya, kebutuhan solar dan perbaikan armada menjadi persoalan yang perlu diperhatikan agar kendaraan dapat digunakan setiap kali terjadi kebakaran.
“Kendalanya sebetulnya di operasional. Mereka tidak ada anggaran untuk solar maupun perbaikan-perbaikan unit. Jadi, kalau ada titik api baru, sementara dilakukan secara swadaya,” ujar Harun saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia menjelaskan, kebutuhan perawatan kendaraan juga mencakup penggantian oli dan pemeliharaan unit agar armada tetap siap digunakan dalam penanganan kebakaran.
Di sisi lain, kemunculan titik api di Bengalon masih terjadi dengan rata-rata satu titik setiap hari. Salah satu lokasi yang pernah ditangani berada di kawasan jalan poros Bengalon-Sangatta.
Untuk menangani kebakaran tersebut, personel gabungan yang terdiri atas Masyarakat Peduli Api (MPA), tim BPBD, dan anggota Brigif tetap disiagakan.
Harun mengatakan, meski terkendala biaya operasional, titik api yang ditemukan sejauh ini masih dapat ditangani oleh petugas.
Namun, ia berharap dukungan operasional dapat ditingkatkan agar proses pemadaman dan pemeliharaan kendaraan tidak terus bergantung pada swadaya.
Dengan dukungan tersebut, kesiapan armada dan personel diharapkan tetap terjaga untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Bengalon. (Adv)




