Ilustrasi perlunya tobat ekologis atas krisis iklim di Bumi (Foto:ist)

Cak Imin Serukan Tobat Ekologis Saat Debat Cawapres, Berikut Fakta Krisis Iklim di Bumi

Penulis : Cca
22 January 2024
Font +
Font -

KATAKALTIM.COM - Usai debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) ke 4 pada Minggu (21/1/2024) kemarin, 'tobat ekologis' menjadi ungkapan yang ramai di media sosial.

Cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin, menyerukan kepada kandidat Calon Presiden (Capres) dan Cawapres serta seluruh masyarakat Indonesia agar segera 'tobat ekologis' karena kerusakan lingkungan semakin parah.

"Saya ingin mengingatkan Pak Prabowo, Pak Gibran, Pak Mahfud, Pak Ganjar, saya dan Mas Anies, untuk sama-sama tobat ekologis memperbaiki ke depan supaya lebih baik lagi," katanya saat menyampaikan pernyataan penutup di Debat Cawapres, Minggu (21/1/2024) kemarin.

Menurut Cak Imin, tobat ekologis mendesak dilakukan mengingat bencana ekologis makin marak terjadi di mana-mana, dan korbannya adalah rakyat kecil seperti petani yang gagal panen karena kondisi iklim.

"Bencana ekologis, banjir, longsor dan berbagai keadaan sulit terjadi. Ini bukan main-main. Ini serius. Kalau mau jujur kiamat makin dekat ini," kata Cak Imin

Baca Juga: Mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj bersama AMIN hadiri Haul KH Bisri Syansuri di Jombang (Foto: detik)AMIN Hadiri Haul KH Bisri Syansuri ke-45, Mantan Ketum PBNU Sebut 100 Persen Beri Dukungan

Ia menekankan soal keharusan pembangunan yang berkelanjutan, pentingnya etika, serta tidak ugal-ugalan mengeksploitasi lingkungan.

Cak Imin bukan satu-satunya orang yang memiliki ketakutan akan kondisi lingkungan yang makin rusak. 'Kehancuran' Bumi akibat ulah manusia sudah sering disuarakan oleh ilmuwan dari seluruh dunia. Separah apa kondisi Bumi?

Bencana Ekologis

Mengutip dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana ekologis adalah fenomena bencana yang terjadi akibat adanya perubahan tatanan ekologi yang mengalami gangguan atas beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia, makhluk hidup dan kondisi alam.

Bencana ekologi sering terjadi akibat akumulasi krisis ekologi yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kegagalan mengurus alam. Kondisi ini juga dipercepat dengan dampak dari aktivitas manusia dalam mengelola lingkungan sehingga mempengaruhi pemanasan global di Bumi yang berujung pada terjadinya bencana-bencana dimana-mana.

Parahnya Kondisi Bumi

Dikutip dari laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023 menyebutkan, 3,3 miliar hingga 3,6 miliar orang tinggal di tempat yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Dari tahun 2010 hingga 2020, kematian manusia akibat banjir, kekeringan dan badai 15 kali lebih tinggi di wilayah-wilayah tersebut dibandingkan wilayah-wilayah yang kurang rentan.

"Di semua wilayah, peningkatan kejadian panas ekstrem telah mengakibatkan kematian dan kesakitan manusia. Terjadinya penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air yang berhubungan dengan perubahan iklim dan kejadian penyakit yang ditularkan melalui vektor telah meningkat," kata laporan tersebut.

Dengan kata lain, perubahan iklim telah membunuh banyak orang. Laporan tersebut menjelaskan bahwa hal ini akan menyebabkan lebih banyak korban jiwa.

"Dalam waktu dekat, setiap wilayah di dunia diproyeksikan akan menghadapi peningkatan bahaya iklim lebih lanjut, tergantung pada wilayah dan bahaya, yang meningkatkan berbagai risiko terhadap ekosistem dan manusia," demikian laporan IPCC.

Bahaya dan risiko terkait yang diperkirakan terjadi dalam jangka pendek mencakup peningkatan angka kematian dan morbiditas manusia yang berhubungan dengan panas, penyakit yang ditularkan melalui makanan, penyakit yang ditularkan melalui air, dan penyakit yang ditularkan melalui vektor, tantangan kesehatan mental, banjir di pesisir dan kota-kota serta wilayah dataran rendah lainnya, hilangnya keanekaragaman hayati di ekosistem daratan, air tawar, dan lautan, hingga penurunan produksi pangan di beberapa wilayah.

Terlepas dari laporan yang mengerikan ini, ilmuwan tidak bermaksud menakut-nakuti, melainkan pesan utama yang disampaikan adalah perlunya tindakan iklim yang mendesak untuk menjamin masa depan yang layak untuk ditinggali bagi semua orang.

"Ada dua hal yang bisa menjadi kenyataan sekaligus: Krisis iklim sedang terjadi dan sedang berlangsung, dan krisis ini bisa dan akan menjadi jauh lebih buruk, kecuali dunia secara drastis mengurangi emisi gas rumah kaca," kata para ilmuwan dalam laporan tersebut. (*)

Font +
Font -