KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan aplikasi khusus untuk memperbaiki pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Langkah ini dilakukan menyusul masih ditemukannya ketidaksesuaian data yang dinilai memengaruhi upaya penanganan anak putus sekolah di daerah tersebut.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, mengatakan aplikasi tersebut akan menjadi pembanding data ATS dari Kementerian Pendidikan dengan hasil verifikasi langsung di lapangan.
Heri, yang mewakili Kepala Disdikbud Kutim Mulyono, menyebutkan masih ada warga yang tercatat sebagai ATS meskipun sudah menyelesaikan pendidikan SMA, bahkan melanjutkan kuliah.
Selain itu, warga yang telah pindah ke luar Kutim juga masih ditemukan dalam basis data tersebut.
“Aplikasi ini nanti akan memberikan tanda khusus terhadap data yang sudah diverifikasi di lapangan sehingga pemerintah daerah memiliki gambaran kondisi riil ATS di Kutai Timur,” ujar Heri.
Berdasarkan data yang disampaikan Disdikbud Kutim, jumlah ATS saat ini masih sekitar 9.961 anak.
Pemerintah daerah menargetkan angka tersebut turun menjadi sekitar 3.000 hingga 4.000 anak pada akhir 2026.
Untuk mencapai target itu, Disdikbud mempercepat verifikasi dan validasi data dengan melibatkan operator desa dan operator sekolah.
Mereka akan memeriksa langsung kondisi anak yang masuk dalam daftar ATS, termasuk status pendidikan dan domisilinya.
Disdikbud juga menggelar sosialisasi dan advokasi Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (PP ATS) untuk membekali operator desa dalam proses pendataan.
Setelah pelatihan, para operator diberi waktu satu hingga dua bulan untuk menyelesaikan verifikasi di wilayah masing-masing.
Hasilnya akan digunakan untuk memperbarui data sekaligus menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan.
Selain pengembangan aplikasi, Pemkab Kutim berencana menjalin kerja sama dengan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen melalui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU.
Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat pertukaran data pendidikan sehingga penanganan ATS di Kutim dapat dilakukan secara lebih akurat dan tepat sasaran. (Adv)




