Payload Logo
i-275420251125184517637

Kepala Bidang Kebersihan DLH Kota Balikpapan, Dody Yulianto, Minggu (6/7/2025). (dok : hlm/KataKaltim)

Empat Insinerator Disiapkan, DLH Balikpapan Minta Warga Pilah Sampah Tetap Jadi Prioritas

Penulis: Han | Editor:
7 Juli 2025

Balikpapan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan terus berupaya mengurangi jumlah sampah residu yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar. Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah pengadaan empat unit insinerator ramah lingkungan dengan kapasitas masing-masing 5 ton per hari.

Kepala Bidang Kebersihan DLH Kota Balikpapan, Dody Yulianto, menjelaskan bahwa keberadaan insinerator bukan untuk menggantikan peran masyarakat dalam memilah sampah, melainkan sebagai solusi akhir untuk limbah yang tidak lagi memiliki nilai guna.

"Insinerator hanya untuk residu, bukan untuk semua sampah. Sampah yang masih bernilai ekonomis seperti botol plastik, kertas, kardus, dan organik tetap harus dipilah sejak dari rumah," ujar Dody saat ditemui pada Minggu (6/7/2025).

Proyeksi Anggaran dan Lokasi Penempatan

Dody menyebutkan, anggaran untuk satu unit insinerator mencapai sekitar Rp2 miliar. DLH juga memastikan bahwa hanya teknologi yang sudah bersertifikasi emisi yang akan digunakan.

Empat titik lokasi telah disiapkan sebagai tempat operasional insinerator, antara lain di TPST Kota Hijau, TPST Kilometer 12, TPST Graha Indah, dan fasilitas Material Recovery Facility (MRF) Gunung Bahagia yang akan ditingkatkan menjadi TPST. DLH juga mempertimbangkan menempatkan unit insinerator tambahan di pasar-pasar yang memiliki TPS 3R, seperti di Pasar Pandan Sari dan Pasar Sepinggan.

"Kami berhati-hati agar kehadiran insinerator ini tidak menurunkan semangat warga memilah sampah. Teknologi ini bukan segalanya, tapi bagian dari sistem yang lebih luas," tambahnya.

Fokus Bertahap, Tak Ikut Tren Daerah Lain

Berbeda dengan daerah lain di Kalimantan Timur seperti Berau dan Kutai Kartanegara yang telah lebih dulu menerapkan insinerator skala lingkungan, DLH Balikpapan menempuh pendekatan bertahap.

Menurut Dody, tahapan Balikpapan dimulai dari pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), lalu peningkatan kapasitas pemilahan sampah, dan baru pada fase berikutnya menggunakan teknologi insinerator.

"Kami tidak ikut-ikutan beli insinerator hanya karena daerah lain sudah pakai. Semua sesuai peta jalan pengelolaan sampah kota," ujarnya.

Dorong Kesadaran Pilah Sampah Lewat Edukasi dan Bank Sampah

Meski teknologi insinerator mulai disiapkan, Pemerintah Kota Balikpapan tetap menekankan pentingnya keterlibatan warga dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Upaya ini juga terus didorong lewat surat edaran Wali Kota yang mengatur kewajiban keberadaan bank sampah di tiap kelurahan dan kecamatan.

"Minat warga untuk memilah sampah mulai meningkat kembali setelah sempat menurun saat pandemi. Ini jadi momentum yang harus dijaga," jelas Dody.

Sejalan dengan itu, pembangunan TPST juga terus dilakukan. DLH menargetkan hingga akhir 2025 akan ada empat TPST yang beroperasi penuh. Keempat lokasi tersebut berada di Kota Hijau, Kilometer 12, Graha Indah, dan Gunung Bahagia.

"Pembangunan akan dilanjutkan lagi pada 2026, agar infrastruktur pengelolaan sampah di kota ini makin lengkap dan terintegrasi," tutupnya.

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Berita Terkait
#Terpopuler