PENAJAM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, jumlah pasti penderita yang mengalami gangguan kesehatan tersebut masih perlu dihimpun dari data pelayanan kesehatan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes PPU, Lukasiwan Eddy Saputro, membenarkan adanya peningkatan kasus ISPA ketika ditanya mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.
“Ya, tadi itu meningkat ISPA,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Selain ISPA, Dinkes juga memiliki data mengenai sejumlah jenis penyakit lain yang ditangani fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk diare dan gangguan pada mata.
Meski demikian, Lukasiwan belum menyampaikan angka kasus secara terperinci ketika wawancara berlangsung.
Ia mengatakan data penyakit tersebut tersedia, tetapi perlu diperiksa kembali untuk memastikan jumlah dan periode pencatatannya.
“Kalau data ISPA, diare, maupun yang sakit mata itu ada semua. Kalau diminta sekarang, saya tidak hafal angkanya,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan perlunya penelusuran lebih lanjut terhadap data pelayanan kesehatan untuk mengetahui perkembangan kasus selama periode karhutla.
Paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.
Risiko gangguan kesehatan perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan sebelumnya.
Meski demikian, peningkatan kasus ISPA tidak dapat langsung seluruhnya dikaitkan dengan karhutla tanpa analisis data dan pemeriksaan faktor penyebab lainnya.
Diperlukan perbandingan angka kasus sebelum dan selama kejadian kebakaran untuk melihat pola peningkatannya.
Dinkes PPU perlu menghimpun laporan dari puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya guna memperoleh gambaran mengenai jumlah pasien, wilayah dengan kasus terbanyak, serta kelompok masyarakat yang paling terdampak.
Data tersebut juga penting untuk menentukan langkah penanganan kesehatan yang diperlukan apabila gangguan kualitas udara berlangsung dalam waktu lama.
Masyarakat yang mengalami sesak napas, kesulitan bernapas, atau keluhan yang memburuk setelah terpapar asap disarankan segera mencari pertolongan medis.
Penggunaan masker yang sesuai, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, serta menjaga kualitas udara dalam ruangan juga dapat membantu mengurangi paparan.
Dinkes PPU diharapkan dapat menyampaikan perkembangan data penyakit secara berkala agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi kesehatan selama karhutla. (Adv)










