Balikpapan — Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menunjukkan optimisme tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui dua fokus utama, yakni pengurangan sampah dan penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda Litbang) Balikpapan, Murni, menegaskan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
“Persoalan sampah ini bukan hanya di Balikpapan, tetapi sudah menjadi isu nasional. Meski berbagai program telah berjalan, kami tetap optimistis pengurangan sampah bisa semakin efektif melalui kebijakan yang terintegrasi dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada kebersihan kota, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Pemkot terus mendorong pengurangan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk melalui edukasi masyarakat dan penguatan sistem pengelolaan.
Di sisi lain, Pemkot juga menaruh perhatian besar pada penguatan ekonomi lokal, terutama melalui pemberdayaan UMKM. Murni menilai distribusi anggaran yang menyentuh hingga tingkat kelurahan dan kecamatan menjadi strategi efektif untuk memastikan manfaat pembangunan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ketika anggaran didistribusikan hingga ke level bawah, kelompok masyarakat kecil akan merasakan dampaknya secara langsung, terutama dalam peningkatan pendapatan,” jelasnya.
Menurutnya, UMKM telah terbukti menjadi tulang punggung ekonomi daerah, terutama saat menghadapi krisis seperti pandemi. Sektor ini mampu bertahan sekaligus menjaga perputaran ekonomi tetap berjalan.
Data menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Balikpapan mengalami penurunan signifikan dari sekitar 10,9 persen pada 2020 menjadi 5,8 persen saat ini. Capaian tersebut tidak lepas dari peran aktif UMKM dalam menyerap tenaga kerja.
Meski demikian, Pemkot menyadari bahwa sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memiliki keterbatasan, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja dan distribusi keuntungan di tingkat lokal.
“Industri pengolahan memang besar kontribusinya, tetapi tidak semua manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, kami mendorong ekonomi kreatif yang lebih inklusif,” tambah Murni.
Ke depan, Pemkot Balikpapan akan terus memperkuat sektor ekonomi kreatif, khususnya di bidang kuliner, akomodasi, dan pariwisata. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan daya saing daerah.
Dengan sinergi antara pengelolaan lingkungan dan penguatan ekonomi lokal, Pemkot optimistis pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat secara angka, tetapi juga merata dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.(han/Adv Diskominfo Balikpapan)











