BONTANG — Pemerintah Kota Bontang mengungkap hasil uji sampling kualitas air di dua lokasi yang diduga menjadi penyebab kematian ikan secara massal, yakni perairan Kelurahan Loktuan dan Keramba Jaring Apung (KJA) Tanjung Limau.
Hasil pemeriksaan internal Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang mengindikasikan kematian ikan dipicu rendahnya kadar oksigen terlarut akibat kondisi air laut yang konda atau tidak mengalami pergerakan.
Kepala Bidang Perikanan DKP3 Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan fenomena tersebut merupakan proses alamiah dan bukan disebabkan pencemaran dari aktivitas industri.
Berdasarkan hasil sampling yang dilakukan Rabu (3/11), kandungan nitrat dan nitrit tercatat mencapai 11,3 miligram per liter. Angka tersebut jauh di atas ambang normal yang disampaikan DKP3, yakni 0,05 miligram per liter.
Syamsu menjelaskan, kondisi air yang tidak bergerak menyebabkan partikel dan bahan organik alami tertahan lebih lama.
Situasi ini diduga memicu penurunan kualitas air dan mengganggu ketersediaan oksigen bagi biota laut.
Di dalam perairan, ikan dan organisme lain, termasuk fitoplankton, sama-sama membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. Ketika kadar oksigen terlarut menurun, ikan berisiko mengalami stres, mabuk, hingga mati.
Dugaan tersebut diperkuat melalui uji coba yang dilakukan tim DKP3 dengan menyuntikkan oksigen ke dalam air menggunakan bantuan Alkon untuk memompa dan menggerakkan air.
Hasilnya, ikan yang sebelumnya terlihat mabuk berangsur-angsur membaik setelah mendapatkan tambahan oksigen.
"Kami uji coba dengan injeksi oksigen. Ikan yang sempat mabuk akhirnya berangsur-angsur membaik. Tetapi biaya memberatkan nelayan. Intinya kedua makhluk hidup laut saling berebut oksigen," terang Syamsu Wardi.
Lebih lanjut, ia menduga kondisi tersebut dipicu hujan deras yang terjadi ketika perairan sedang dalam kondisi konda. Akibatnya, air hujan tertahan cukup lama dan memengaruhi kondisi perairan.
Sementara itu, hasil sampling internal DKP3 menunjukkan sejumlah parameter lainnya masih berada dalam kondisi normal. Tingkat keasaman atau pH air di kedua lokasi tercatat berkisar 7,8 hingga 7,9.
Adapun tingkat kecerahan air tercatat sekitar 35 sentimeter. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang memungkinkan cahaya menembus air hingga 50 sentimeter atau lebih.
"Kadar oksigen di bawah permukaan yang tipis menyebabkan ikan mabuk hingga mati. Penyebabnya karena air konda dan pencemaran secara alami," ungkapnya.
DKP3 Bontang menilai hasil pemeriksaan tersebut perlu disampaikan kepada nelayan agar mereka mengetahui kondisi perairan yang diduga menjadi penyebab kematian ikan.
Namun, Syamsu menegaskan, kewenangan pengelolaan wilayah laut hingga 12 mil berada di tangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Hingga kini, berdasarkan informasi yang diterima awak media, tim dari Pemprov Kaltim belum turun langsung ke lapangan setelah menerima laporan nelayan. Pemeriksaan sementara masih dilakukan secara internal oleh Pemkot Bontang sebagai tindak lanjut atas keluhan masyarakat.
"Kewenangan di provinsi. Kami ini menindaklanjuti keluhan warga saja. Jadi, hasil sampling ini ditujukan kepada warga Bontang dan nelayan," sambungnya.
Ikan Mati Massal Diklaim Layak Konsumsi
Di sisi lain, DKP3 Bontang menyatakan ikan yang mati massal di keramba nelayan masih layak dikonsumsi. Kesimpulan sementara tersebut didasarkan pada pemeriksaan fisik yang dilakukan tim terhadap kondisi ikan.
Saat pemeriksaan, insang ikan disebut masih terlihat normal tanpa bercak maupun lendir yang menurut DKP3 dapat mengindikasikan paparan zat pencemar tertentu. Sementara itu, kondisi mata ikan yang berkabut dinilai lebih berkaitan dengan penurunan tingkat kesegaran.
Syamsu menjelaskan, ikan yang mengalami paparan pencemaran logam berat dapat menunjukkan perubahan kondisi fisik. Namun, pemeriksaan visual saja belum dapat memastikan ada atau tidaknya kandungan logam berat maupun zat berbahaya lainnya.
Karena itu, DKP3 berencana melakukan pengujian laboratorium secara lebih spesifik terhadap sampel ikan yang mati.
Saat ini, pihaknya masih berfokus menangani dugaan penyebab ikan mengalami mabuk hingga berujung kematian.
"Layak konsumsi. Karena itu murni mati akibat rendahnya oksigen di dalam permukaan. Gejala ikan mati juga tidak langsung massal," sambungnya. (*)












-300x195.jpg&w=3840&q=75)