KUTIM — Pemerintah Kutai Timur (Kutim) tengah berupaya mengubah wajah ekonominya dari ketergantungan pada sektor ekstraktif menuju hilirisasi industri.
Melalui program Investment Project Ready to Offer (IPRO), Kutim secara agresif menawarkan peluang investasi pembangunan pabrik turunan kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Novian Prananta, mengungkapkan IPRO menjadi instrumen strategis memberi kepastian bagi calon investor.
Melalui skema ini, calon penanam modal tak lagi perlu meraba-raba proyeksi bisnis. Sebab semua data teknis dan peluang telah dikemas secara matang.
"IPRO adalah upaya kami menyuguhkan proyek yang siap eksekusi, jelas, dan memiliki prospek menjanjikan. Kami ingin investor datang ke sini dengan gambaran yang utuh mengenai potensi hilirisasi, baik di sektor oleofood maupun oleochemical," ucap Novian di Sangatta baru-baru ini.
Dİ KEK MBTK, pemerintah daerah menyiapkan lahan seluas 509,496 hektare dengan status clear and clean.
Untuk menggoda para investor di tengah persaingan kawasan industri yang ketat, Pemerintah Kutim memberi paket insentif berupa biaya sewa lahan yang kompetitif, bahkan dengan fasilitas masa bebas sewa hingga 4 tahun.
Tak hanya urusan internal kawasan, pemerintah juga memastikan aksesibilitas menuju KEK MBTK terus dibenahi melalui sinkronisasi pembangunan jalan antara pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat.
Hal itu menjadi sangat penting untuk menekan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan utama di wilayah Timur Indonesia.
Dalam dokumen IPRO 2025 Pemerintah Kalimantan Timur, Kutim diposisikan sebagai hub strategis bagi industri oleokimia dan pangan.
Targetnya jelas, yaitu hilirisasi sawit tidak hanya mendongkrak nilai tambah produk, tetapi juga mengerek kesejahteraan petani dan memperkuat peran koperasi rakyat di hulu.
“Kami tidak ingin sekadar menjadi penyuplai bahan mentah. Dengan membangun industri turunan seperti minyak goreng dan biodiesel di sini, kita menciptakan nilai tambah yang besar, membuka lapangan kerja, dan mendorong ekonomi yang lebih ramah lingkungan," tandas Novian.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya sistematis Kutim dalam melakukan diversifikasi ekonomi. Dengan keberhasilan menarik investor ke dalam ekosistem KEK MBTK, Pemerintah Kutim berharap dapat melepaskan diri dari bayang-bayang fluktuasi harga komoditas pertambangan.
“Dan tentunya beralih ke industri pengolahan yang lebih berkelanjutan,” tutupnya. (Nun)











