Payload Logo
Potensi akademik

Ilustrasi tes potensi akademik (dok: akal imitasi)

OPINI: Bukan Penentu Kelulusan, Ini Fungsi Sebenarnya dari Tes Kemampuan Akademik

Penulis: Septian | Editor: Agu
21 Januari 2026

Penulis: Septian Chaerunnisa Pangestu (Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto)

KATAKALTIM — Setiap kebijakan pendidikan hampir selalu memantik perdebatan publik. Hal itu wajar, sebab pendidikan menyangkut masa depan generasi dan arah bangsa. Kehadiran Tes Kemampuan Akademik (TKA) pun tidak luput dari sorotan. Sebagian publik menyambutnya sebagai langkah maju dalam evaluasi pendidikan, sementara sebagian lainnya masih menyimpan kekhawatiran, seolah TKA hanyalah ujian nasional dengan format baru. Kekhawatiran tersebut patut dipahami, tetapi juga perlu diluruskan secara proporsional.

Jika dicermati secara utuh, TKA dirancang bukan sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai instrumen pemetaan capaian pendidikan nasional. Tujuan utamanya adalah menyediakan data akademik yang objektif dan terstandar sebagai dasar perbaikan kualitas pendidikan, sekaligus memastikan layanan pendidikan yang bermutu dan adil bagi seluruh peserta didik.

Mengapa TKA diperlukan?

Salah satu persoalan mendasar pendidikan Indonesia adalah ketimpangan mutu antarwilayah dan antar satuan pendidikan. Selama ini, kebijakan pendidikan kerap disusun dengan keterbatasan data capaian akademik yang dapat dibandingkan secara nasional. Akibatnya, intervensi kebijakan sering kali bersifat umum dan belum sepenuhnya tepat sasaran.

Dalam konteks inilah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan TKA. Tes ini dirancang untuk memotret kemampuan akademik siswa secara objektif, sehingga negara memiliki peta capaian pendidikan yang lebih akurat. Tanpa peta yang jelas, upaya meningkatkan mutu pendidikan akan sulit diarahkan secara efektif dan berkeadilan.

Tiga Fungsi Utama TKA

Berbeda dengan model evaluasi pendidikan masa lalu yang menitikberatkan pada hasil akhir, TKA mengusung paradigma asesmen modern dengan tiga fungsi utama.

Pertama, assessment of learning, yaitu memotret capaian akademik siswa secara nasional. Data ini penting untuk mengetahui posisi capaian siswa di tingkat sekolah, daerah, hingga nasional.

Kedua, assessment for learning, di mana hasil TKA digunakan sebagai dasar perbaikan proses pembelajaran. Guru dan sekolah dapat menjadikan data tersebut sebagai bahan refleksi untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Ketiga, assessment as learning, yang menempatkan asesmen sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. Siswa tidak sekadar menerima nilai, tetapi didorong untuk memahami dan merefleksikan capaian belajarnya.

Dengan kerangka ini, TKA tidak dimaksudkan untuk menghakimi capaian peserta didik, melainkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus perbaikan sistem pendidikan secara berkelanjutan.

Pelaksanaan yang Menunjukkan Respons Positif Publik

Kemendikdasmen mencatat bahwa pelaksanaan TKA secara umum berlangsung dengan baik, meskipun ini merupakan kali pertama diterapkan secara nasional. Tingkat partisipasi peserta didik tergolong sangat tinggi, mencerminkan kesiapan satuan pendidikan sekaligus antusiasme publik terhadap upaya pembaruan evaluasi pendidikan. Dukungan juga datang dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari sekolah, pemerintah daerah, hingga perguruan tinggi, yang melihat TKA sebagai langkah awal menuju sistem penilaian pendidikan yang lebih terarah dan berbasis data.

Membaca Kritis Kekhawatiran Publik terhadap TKA

Sejumlah kritik yang menyamakan TKA dengan ujian nasional masa lalu tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kolektif publik terhadap sistem evaluasi yang bersifat menentukan segalanya. Namun, secara konseptual, TKA dirancang dengan pendekatan yang berbeda. TKA tidak bersifat high-stakes test, tidak menentukan kelulusan peserta didik, dan tidak berdiri sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan belajar. Oleh karena itu, kekhawatiran publik perlu dibaca secara kritis dan dijawab dengan penjelasan yang utuh, bukan dengan penolakan semata.

Kekhawatiran lain terkait potensi beban tambahan bagi peserta didik juga perlu ditempatkan secara proporsional. Dalam prinsip asesmen modern, tes bukanlah tujuan akhir, melainkan alat diagnosis. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana hasil asesmen tersebut dimanfaatkan dalam perbaikan pembelajaran.

Manfaat Strategis TKA bagi Peningkatan Mutu Pendidikan

Dari sisi proses, TKA mendorong tumbuhnya budaya refleksi dalam pembelajaran. Guru dan sekolah tidak lagi hanya berorientasi pada capaian nilai, tetapi pada upaya perbaikan berkelanjutan berdasarkan data yang objektif. Sementara dari sisi hasil, TKA menghasilkan basis data nasional yang dapat menjadi rujukan penting bagi penyusunan kebijakan pendidikan berbasis bukti. Dalam jangka panjang, data TKA berpotensi digunakan untuk merancang kebijakan afirmatif bagi daerah yang masih tertinggal, meningkatkan kualitas pembelajaran secara lebih terarah, serta memastikan bahwa layanan pendidikan diberikan secara lebih adil dan merata.

Pada akhirnya, Tes Kemampuan Akademik perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen membaca realitas pendidikan nasional, bukan sebagai momok baru dalam dunia sekolah. Kritik dan kewaspadaan publik tentu penting sebagai bagian dari kontrol demokratis, tetapi kritik yang konstruktif hanya mungkin lahir dari pemahaman yang utuh. Dengan penggunaan data yang tepat dan kebijakan yang berpihak pada perbaikan pembelajaran, TKA dapat menjadi salah satu pijakan penting dalam mewujudkan pendidikan yang adil, bermutu, dan berorientasi pada masa depan peserta didik. (*)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025