SAMARINDA — Air mata Surianti menetes tak tertahankan. Dia adalah istri korban penikaman di Gunung Mangga, Jalan Otto Iskandardinata, Kota Samarinda.
Peristiwa tragis itu direkam oleh sejarah pada Senin 5 Januari 2026. Fenomenanya menggegerkan warga.
Bagaimana tidak, korban tergeletak di tengah keramaian akibat luka tusukan. Tepat di ulu hati. Ia ditikam oleh seseorang yang disebut-sebut dengan nama Venom.
Tak cukup sampai di situ, saat tubuh korban tak berdaya di atas aspal, pelaku masih tega melayangkan tendangan.
Seolah nyawa manusia tak lebih berharga dari debu jalanan. Pelakunya ternyata tidak satu orang.
Cerita Sang Istri
Hanya beberapa jam sebelum aspal Gunung Mangga memerah oleh darah, korban inisial WP masih tersenyum.
Tangannya masih bisa memegang jemari anaknya. Dan mengantar sang istri ke tempat cukur.
Tak ada firasat buruk. Tak ada pamit yang pilu. Hanya ada rutinitas kasih sayang kepala keluarga yang hendak memastikan istri dan anaknya tampak rapi dan bahagia.
“Dia (WP) sempat bawa kami potong rambut sama anaknya,” ucap Surianti sambil menangis menceritakan aktivitas suaminya.
Air matanya jatuh tak tertahankan. Di balik baju yang ia kenakan, ada detak jantung kecil yang sedang tumbuh.
Ada buah hati yang kini terancam tak akan pernah merasakan dekapan hangat ayahnya. Ya, Surianti sedang hamil besar.
“Waktu itu aku hamil besar. Jadi ndak fokus ke situ (melaporkan pelaku). Jadi saya fokus ke almarhum,” ucap Sutianti saat ditemui di Samarinda, Rabu 28 Januari 2026.
Menghadap ke Pusara
Di saat Surianti yang harusnya menyiapkan perlengkapan bayi dan menyambut kelahiran anak dengan suka cita, ia justru berdiri di depan pusara.
Dirinya menatap tanah yang memeluk suaminya terlalu cepat. Bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu.
Ia menunggu kepulangan suaminya untuk makan malam atau sekadar melepas lelah. Namun yang datang justru kabar bahwa lelaki yang tak pernah mencari musuh itu telah tumbang.
"Ndak pernah dia bermasalah. Saya tanya teman kerjanya, bosnya, ndak perah dia bermasalah," isaknya.
WP ditikam di dada, sebuah luka yang tidak saja menghapus nyawa satu orang. Tetapi merenggut jantung kebahagiaan keluarga kecil mereka.
"Waktu itu dia antar kami pulang. Setelah itu keluar lagi kerja. Di situlah mungkin terjadi (pembunuhan)," ucapnya.
Doa Surianti
Kini, di sebuah rumah di Samarinda, ada kursi yang kosong. Ada seorang anak yang akan terus bertanya kapan ayahnya pulang.
Dan ada seorang bayi yang kelak hanya bisa mengenal wajah ayahnya lewat bingkai foto yang membisu.
Surianti hanya punya satu doa yang tersisa di antara sesaknya napas karena tangisan: Keadilan. Ya, keadilan.
Ia ingin hukum bicara lantang. Agar luka di dadanya tidak semakin menganga saat ia harus membesarkan anak-anaknya sendirian.
Sendirian tanpa sosok pelindung yang telah dirampas secara paksa dari sisinya. Ya, Sutianti menghendaki keadilan. Polisi harus laksanakan.
“Semoga suami saya dapat keadilan. Pelaku dapat hukuman yang setimpal,” harapnya. (Agu)










