PENAJAM – Pasokan cabai di Pasar Induk Nenang, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), ternyata tidak seluruhnya berasal dari petani lokal.
Berdasarkan hasil penelusuran di pasar tersebut, sejumlah pedagang mengaku mendapatkan pasokan cabai dari Balikpapan, bukan langsung dari petani di PPU.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat produksi cabai daerah tersebut mengalami surplus setiap bulan.
Namun, surplus produksi itu belum sepenuhnya tercermin dalam pola pasokan cabai yang diterima pedagang di pasar tradisional.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) PPU, Gunawan, mengatakan cabai yang dihasilkan petani lokal umumnya memiliki tingkat kesegaran lebih baik.
Kondisi tersebut membuat produk lokal diminati konsumen, meskipun harganya terkadang lebih tinggi di pasaran.
“Kalau cabai lokal kita ini rata-rata memang lebih mahal. Karena lebih segar, sehingga di tingkat pengecer biasanya harganya lebih tinggi. Konsumen juga cenderung menyukai cabai yang masih segar,” ujar Gunawan, Kamis (15/10/2026).
Ia mengaku, berdasarkan data yang dimiliki Distan PPU, produksi cabai daerah tersebut mengalami surplus setiap bulannya.
Namun, ketersediaan produksi itu belum sepenuhnya tercermin dalam pasokan yang beredar di pasar lokal.
Menurutnya, salah satu hal yang perlu ditelusuri ialah alur distribusi hasil panen.
Tidak menutup kemungkinan cabai yang diproduksi petani PPU dibeli pengepul, kemudian dipasarkan kembali ke daerah lain seperti Balikpapan, Samarinda, Sangatta, hingga Bontang.
“Data kami menunjukkan setiap bulan surplus. Hanya saja, berkaitan dengan alur distribusinya, ini yang masih perlu kami cermati. Bisa saja petani menjual ke pengepul, tetapi kemudian hasil panennya dibawa ke luar daerah,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan konsumen.
Pemerintah daerah perlu memastikan petani tetap memperoleh keuntungan yang layak, sementara masyarakat dapat membeli cabai dengan harga terjangkau.
Gunawan mengatakan, salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah memperkuat kerja sama antardaerah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan.
Kerja sama tersebut dinilai penting mengingat produksi dan distribusi komoditas pertanian dapat dipengaruhi kondisi cuaca serta bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.
“Kerja sama antardaerah memang mutlak karena kita memiliki keterbatasan dalam alur distribusi dan produksi. Kita bisa mengoptimalkan kerja sama melalui champion atau pelaku unggulan di daerah-daerah sekitar,” katanya.
Ia menyebutkan, PPU telah menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Karo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Sinjai, dan Kabupaten Bulukumba.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah daerah berharap pasokan pangan dapat lebih terjaga sehingga harga komoditas, termasuk cabai, tetap terkendali tanpa mengabaikan kesejahteraan petani lokal. (Adv)










