Penulis Opini: Riyawan (Pengamat Sosial)
KATAKALTIM — Fenomena ujaran kebencian di media sosial kembali menyentuh isu identitas kultural. Salah satu yang sempat ramai adalah ungkapan “Jawa adalah Hama”, sebuah frasa yang dinilai banyak pihak melampaui batas candaan dan masuk ke wilayah dehumanisasi.
Ungkapan tersebut memantik perdebatan luas, memperlihatkan bahwa persoalan relasi antarbudaya di Indonesia masih menyisakan luka, prasangka, dan salah paham yang belum sepenuhnya selesai.
Namun, di tengah riuhnya narasi negatif, muncul arus tandingan yang justru bergerak dengan cara tenang dan berkelas. Bukan melalui amarah atau konfrontasi, melainkan lewat musik. Dalam beberapa tahun terakhir, musik berbahasa Jawa justru mengalami kebangkitan besar dan diterima luas lintas generasi serta latar belakang. Dari panggung konser hingga lini masa TikTok, lagu-lagu Jawa menjelma simbol kebanggaan baru yang menggeser stigma menjadi apresiasi.
Kebangkitan Musik Jawa di Tengah Riuh Media Sosial
Popularitas musik Jawa saat ini bukan fenomena instan. Lagu-lagu karya almarhum Didi Kempot menjadi fondasi penting gelombang ini. Karya seperti Suket Teki dan Tanjung Mas Ninggal Janji yang telah dirilis puluhan tahun lalu kembali viral dan menemukan audiens baru di kalangan milenial dan Gen Z. Julukan “The Godfather of Broken Heart” yang disematkan kepadanya menandai perubahan cara pandang generasi muda terhadap musik daerah.
Tak berhenti di situ, musisi generasi baru seperti Denny Caknan dan Nella Kharisma membawa musik Jawa ke ranah yang lebih kekinian. Lagu Kartonyono Medot Janji dan Bojo Galak tidak hanya populer di Jawa, tetapi juga dinyanyikan oleh pendengar dari berbagai daerah di Indonesia. Perpaduan bahasa Jawa dengan aransemen pop dan koplo modern membuat musik ini terasa akrab, tanpa kehilangan identitasnya.
Media sosial berperan besar dalam proses ini. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram menjadi ruang baru bagi anak muda untuk mengekspresikan kebanggaan kultural. Video cover, konser kecil di kafe, hingga konten kreatif berbahasa Jawa menunjukkan bahwa identitas budaya tidak lagi disembunyikan, melainkan dipamerkan dengan percaya diri. Dalam konteks ini, ruang digital yang sebelumnya menjadi sarang ujaran kebencian justru berbalik menjadi arena reklamasi identitas.
Musik sebagai Bentuk Resistensi Budaya yang Positif
Pengamat musik senior Bens Leo menilai kebangkitan musik Jawa sebagai bentuk protes halus generasi muda. Menurutnya, di tengah dominasi budaya global, anak muda justru mencari “rumah” melalui bahasa dan bunyi yang dekat dengan keseharian mereka. Musik Jawa menjadi medium untuk menyatakan bahwa identitas lokal tidak kalah relevan dan tidak perlu inferior.
Pandangan serupa disampaikan sosiolog budaya Prof. Dr. Risa Permanadeli dari Universitas Indonesia. Ia melihat fenomena ini sebagai bentuk “resistensi melalui kegembiraan”. Alih-alih membalas stigma dengan kemarahan, masyarakat memilih menari, bernyanyi, dan membangun kebanggaan kolektif. Strategi ini dinilai lebih beradab dan efektif dalam jangka panjang karena mengajak orang lain untuk ikut merasakan, bukan sekadar berdebat.
Data digital memperkuat argumen tersebut. Jumlah penonton ratusan juta di YouTube, dominasi lagu Jawa di tangga lagu streaming, hingga konser yang selalu dipenuhi penonton lintas usia menunjukkan bahwa apresiasi publik jauh lebih besar dibanding suara sumbang di media sosial. Angka-angka ini sekaligus membantah narasi yang mencoba merendahkan satu identitas budaya tertentu.
Musik juga terbukti mampu membangun komunitas yang inklusif. Konser-konser Didi Kempot semasa hidupnya, maupun penampilan Denny Caknan saat ini, mempertemukan penonton dari berbagai latar belakang etnis dan sosial. Di ruang tersebut, bahasa Jawa tidak lagi menjadi simbol eksklusivitas, melainkan jembatan emosi yang menyatukan.
Dari Stigma ke Harmoni: Pelajaran untuk Indonesia Multikultural
Budayawan Butet Kertaradjasa mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah orkestra. Menurutnya, harmoni hanya bisa tercipta jika setiap “alat musik” budaya diberi ruang untuk berbunyi. Kebangkitan musik Jawa menjadi pengingat bahwa mematikan satu suara budaya hanya akan merusak keseluruhan simfoni kebangsaan.
Bagi para musisinya sendiri, pesan yang dibawa sebenarnya sederhana. Denny Caknan pernah menyatakan bahwa ia hanya ingin anak muda tidak malu berbahasa Jawa. Lewat musik, bahasa tersebut ditampilkan sebagai bahasa yang indah, filosofis, dan mampu mewakili perasaan siapa saja. Pernyataan ini menegaskan bahwa gerakan budaya ini berangkat dari niat pelestarian, bukan superioritas.
Fenomena ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, seni dan budaya terbukti menjadi bahasa pemersatu yang melampaui retorika kebencian. Kedua, generasi muda bukan ancaman bagi tradisi, melainkan motor revitalisasi yang paling aktif. Ketiga, kepercayaan diri budaya adalah benteng paling kuat menghadapi rasisme dan prasangka.
Di tengah tantangan algoritma media sosial yang kerap memperkuat polarisasi, kebangkitan musik Jawa menunjukkan sisi lain dari ruang digital seperti kemampuannya menyebarkan solidaritas dan kebanggaan kolektif. Dari sini, narasi perlahan bergeser. “Jawa” tidak lagi diposisikan sebagai bahan olok-olok, tetapi sebagai bagian penting dari kekayaan budaya nasional.
Perjalanan dari “Jawa adalah Hama” menuju “Jawa adalah Harmoni” bukan sekadar kisah tentang musik, melainkan tentang cara sebuah bangsa merawat perbedaannya. Ketika identitas diserang, jawaban paling kuat bukanlah membalas dengan kebencian, melainkan menunjukkan keindahannya. (*)










