PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena Super El Nino yang diprakirakan terjadi pada 2027.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan kawasan Embung Lawe-Lawe sebagai tempat penampungan cadangan air baku seluas kurang lebih 17 hektare.
Persiapan tersebut dilakukan melalui kolaborasi Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), serta PT Pertamina.
Peninjauan lokasi berlangsung pada Senin (2/11/2026), menyusul arahan Bupati PPU untuk memperkuat ketersediaan air bersih menghadapi musim kemarau mendatang.
Asisten I Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah PPU, Nicko Herlambang, mengatakan pemanfaatan Embung Lawe-Lawe menjadi alternatif yang lebih memungkinkan dibandingkan rencana pembangunan bendung berskala besar yang membutuhkan biaya tinggi.
“Kalau kita menggunakan skema bendung yang direncanakan dulu itu kan biayanya cukup besar. Embung Lawe-Lawe ini salah satu hal yang akan kita coba maksimalkan,” kata Nicko saat meninjau lokasi.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi tampungan air yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pengembangan kolam retensi, air yang tersedia pada musim penghujan diharapkan dapat disimpan untuk memenuhi kebutuhan ketika memasuki periode kering.
“Harapan kita, dengan kita memaksimalkan embung ini, kita punya satu cadangan air yang bisa lebih maksimal. Kalau selama ini kan dia tidak tertampung secara baik, hanya lewat-lewat saja,” tambahnya.
Direktur Perumda AMDT, Abdul Rasyid, menjelaskan langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini mengingat ancaman kekeringan berpotensi berdampak lebih besar terhadap pelayanan air bersih.
Ia mengungkapkan masyarakat telah merasakan beban biaya yang meningkat akibat keterbatasan pasokan air perpipaan.
Dalam kondisi normal, pelanggan kategori R2 disebut mengeluarkan sekitar Rp150 ribu untuk kebutuhan air selama sebulan.
Namun, ketika pasokan terganggu, jumlah tersebut dapat habis hanya dalam dua hari untuk membeli air dari tandon.
“Masyarakat kita sedang resah, karena biaya yang dikeluarkan untuk layanan dasar air bersih itu berkali-kali lipat. Kalau biasanya mereka mengeluarkan Rp150.000 dalam satu bulan, sekarang hanya dua hari habis uang Rp150.000 untuk membeli air tandon,” ungkap Rasyid.
Kolam retensi direncanakan dibangun di atas lahan pinjam pakai milik Pertamina seluas sekitar 17 hektare dengan kedalaman kurang lebih empat meter.
Pekerjaan teknis akan ditangani DPUPR PPU, sedangkan kebutuhan operasional pendukung, termasuk BBM yang diperkirakan mencapai Rp350 juta, sementara ditopang melalui anggaran internal PDAM dan dukungan Pertamina.
Rasyid memperkirakan pengerjaan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Ia berharap dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk DPRD, dapat mempercepat realisasi program tersebut.
“Ini murni kepentingannya adalah kepentingan masyarakat yang menjadi konstituen dari seluruh anggota DPRD. Dan tentu sebagai bagian dari pemerintah, kami menginginkan supaya masyarakat betul-betul terlayani layanan dasarnya,” pungkasnya.
Optimalisasi Embung Lawe-Lawe diharapkan menjadi salah satu sumber cadangan air baku untuk memperkuat ketahanan layanan air bersih PPU, terutama ketika menghadapi kemarau berkepanjangan pada 2027. (Adv)










