Payload Logo
Ketua DPRD Bontang

Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam (kiri), bersama Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud (kanan), dalam sebuah pertemuan pada tahun 2025 lalu (dok: istimewa)

Jaga Niat Baik Presiden, Ketua DPRD Bontang Sepakat Tutup Dapur MBG yang Bermasalah

Penulis: Agung | Editor:
18 Agustus 2026

BONTANG — Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, sepakat menutup dapur makan bergizi gratis (MBG) yang bermasalah.

Andi Faiz, sapaannya, menerangkan bahwa program MBG ini sangat prioritas dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Jangan sampai, kata dia, niat baik Presiden justru tercoreng dengan adanya dapur MBG yang tidak sesuai standar.

“Saya sepakat ditutup. Ini adalah program prioritas Presiden, yang tujuannya sangat mulia,” ucapnya, Selasa 18 Agustus 2026.

Andi Faiz menandaskan, dirinya juga sangat khawatir terhadap persoalan yang kini ramai di Kota Bontang, dugaan keracunan MBG.

Dia mengaku bahwa tidak ada sama sekali niat pemerintah mencelakai warganya.

“Yang harus kita yakini adalah tidak ada sama sekali sedikit pun niat dari pemerintah untuk mencelakai rakyatnya,” tuturnya.

Bahkan, dalam beberapa waktu ini, kata Andi Faiz, pihaknya di dewan sudah melakukan pengawasan dan memonitor sesuai dengan tugasnya.

“Kami sudah mengawasi. Dan tidak mungkin kami bisa mengawasi setiap hari mulai dari menyiapkan sampai mendistribusikan ke sekolah-sekolah. Karena sudah ada kepala SPPG yang mengatur,” terangnya.

Respons Warga

Diketahui belakangan ini puluhan anak-anak Bontang diduga keracunan usai menyantap sajian MBG.

Peristiwa terjadi pada 56 siswa SD dan SMP Vidatra Kota Bontang. Kejadian ini pun ramai disoroti warga.

Sejumlah pemuda Bontang turut memberikan respons dan kritik tajam kepada pemerintah dan wakil rakyat.

Jangan sampai, dengan mengatasnamakan program prioritas Presiden, justru anak-anak di daerah menjadi korban.

“Justru karena ini program prioritas, maka harus benar-benar dikerjakan dengan serius. Jangan sampai anak-anak kita, keluarga kita, menjadi korban,” ucap pemuda Bontang, Muhammad Arisaldi Ahdar, menanggapi pernyataan Ketua DPRD Bontang.

Pemuda lainnya, Andika, juga menyoroti persoalan ini. Pemerintah, khususnya pihak pengelola SPPG agar berhati-hati dengan menyediakan makanan.

“Masa ini kita biarkan. Generasi kita loh ini. Masa kita diam kalau ada yang seperti ini. Jadi kami desak pemerintah dan khususnya wakil rakyat kita agar mengatakan sikap,” tegas Andika.

Keterangan Dinkes Bontang

Sampel makanannya sudah diuji oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang. Terungkap bahwa penyebab 56 siswa SD dan SMP Vidatra keracunan akibat bakteri patogen yang terkandung di makanan.

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, membeberkan ada 4 sampel menu sudah diperiksa.

Keempat menu tersebut antara lain nasi uduk, ayam suwir kemangi, tahu goreng, serta tumis wortel dan kates.

"Hasil pemeriksaan mikrobiologi, dari empat sajian itu, ayam suwir kemangi positif terdapat bakteri patogen," kata Toetoek melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, menukil klikkaltim, Selasa 18 Agustus 2026.

Dari hasil pemeriksaan, Dinkes menelusuri kemungkinan sumber kontaminasi bakteri pada makanan yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5.

Dijelaskan, kontaminasi dapat terjadi pada sejumlah tahapan. Salah satunya saat proses pemorsian makanan.

Saat inspeksi mendadak (sidak), petugas mendapati tempat pendinginan makanan dan proses pemorsian dilakukan dalam 1 ruangan.

Selain itu, penggunaan kemangi mentah dalam proses memasak juga jadi salah satu faktor yang diperiksa.

"Ini bisa muncul saat proses memasak menggunakan kemangi mentah. Hasil pemeriksaan air yang digunakan untuk mencuci sayuran juga akan kami lihat,” terangnya.

Penyebab munculnya bakteri, tambah pihak Dinkes, berasal dari penggunaan ayam beku atau frozen. Namun, dugaan tersebut masih akan ditindaklanjuti bersama instansi terkait.

"Nah kalau ini kami koordinasi dengan DKP3. Penggunaan ayam frozen juga perlu dievaluasi," tandasnya.

Dinkes lebih jauh menerangkan, lamanya waktu antara proses memasak hingga makanan dikonsumsi juga jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

"Ini juga bisa disebabkan proses memasak sampai ke penerima manfaat membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa sampai 10 jam. Ini juga mungkin menjadi faktor utamanya," tandas dia.

Lebih jauh lagi, Dinkes membeberkan keberadaan bakteri patogen tak serta-merta membuat semua penerima makanan alami gejala keracunan.

Kondisi tersebut bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing penerima manfaat. Pada anak dengan kondisi kekebalan tubuh yang baik, bakteri yang masuk ke tubuh belum tentu langsung menimbulkan gejala.

Namun, pada sebagian penerima manfaat dapat muncul keluhan seperti sakit kepala dan sakit perut.

"Memang bisa juga ada keluhan yang muncul, seperti sakit kepala dan sakit perut. Makanya kemarin 30 orang di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan 13 orang harus menjalani rawat inap," tandasnya.

Kata dia, hasil pemeriksaan laboratorium tersebut selanjutnya akan dilaporkan secara berjenjang hingga ke Badan Gizi Nasional (BGN).

Laporan itu nantinya menjadi bahan evaluasi terhadap proses pengolahan hingga pendistribusian menu MBG. (Agung)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025