Payload Logo
Kelas Literasi Sabtu

Pesantren Khatamun Nabiyyin menggelar kelas Literasi Sabtu (Dok: KN)

Kelas Literasi Sabtu Jadi Ikhtiar Pesantren Khatamun Nabiyyin Cegah Krisis Literasi

Penulis: Agung | Editor:
14 Juni 2026

JAKARTA — Pesantren Khatamun Nabiyyin di Jakarta melalui Khatam Institut menginisiasi Kelas Literasi Sabtu, sebagai upaya memperkuat budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasantri.

Program tersebut hadir di tengah situasi ketika arus informasi digital semakin deras, namun tidak selalu diiringi kedalaman cara berpikir.

Di tengah banjir informasi, persoalan utama bukan lagi pada akses membaca, tetapi pada kemampuan memahami, memilah, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna.

Dalam sesi kegiatan, Aswar A, Direktur Utama BRIM (Badan Riset Mahasantri dan Intelektual Khatamun Nabiyyin) menegaskan literasi tidak boleh dipahami secara sempit sebagai kemampuan teknis membaca teks.

“Literasi adalah fondasi cara berpikir. Tanpa literasi yang kuat, seseorang mudah terseret informasi yang tidak valid dan kehilangan daya kritisnya,” ucapnya dalam sesi dialog.

Ia menekankan literasi berperan penting membangun kemandirian intelektual, ketajaman analisis, serta ketahanan berpikir di tengah ekosistem digital yang serba cepat dan penuh distraksi (gangguan).

Kata dia, secara konseptual (pemikiran), literasi dipahami dalam 3 dimensi: literasi teks (kutub), literasi alam (afaq), dan literasi diri (anfus).

Pendekatan itu menegaskan, membaca tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga realitas (kenyataan) sosial dan refleksi diri sebagai sumber pengetahuan.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD). Mahasantri dibagi ke dalam kelompok kecil untuk membaca buku, mendiskusikan isi, dan mempresentasikan hasil analisis secara kritis.

Pola tersebut dirancang untuk menggeser budaya belajar pasif menjadi ruang dialog aktif, kolaboratif, dan argumentatif.

Program ini sekaligus jadi respons atas krisis literasi dan lemahnya budaya berpikir kritis di masyarakat.

“Dan krisis literasi ini kita tahu sangat berdampak pada mudahnya penyebaran informasi palsu serta dangkalnya pemahaman terhadap isu sosial dan keagamaan,” papar Aswar.

Kata dia, melalui Kelas Literasi Sabtu, Pesantren Khatamun Nabiyyin berupaya membangun ekosistem literasi yang tidak berhenti pada formalitas kelas, tetapi tumbuh menjadi budaya berpikir yang hidup di lingkungan mahasantri.

“Kita harap budaya berpikir tumbuh pesat di lingkungan santri,” pungkasnya. (Agung)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025