KATAKALTIM — Pemerintah Republik Islam Iran tengah menyusun langkah politik menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Sayyid Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2025) di Teheran.
Selain itu, Teheran juga meningkatkan intensitas serangan dan memperingatkan akan melakukan aksi balasan yang lebih besar terhadap kedua negara tersebut imbas syahidnya Ali Khamenei.
Kesyahidan Ali Khamenei memicu reaksi dalam dan luar negeri, di Iran terlihat jutaan warga turun ke jalan untuk menyampaikan duka mendalam, begitupun India dan Irak.
Meski demikian, perubahan kepemimpinan tidak serta-merta mengubah sistem politik Iran sebagaimana yang diharapkan Amerika, sebagaimana yang telah ia lakukan terhadap beberapa negara Islam di kawasan.
Struktur pemerintahan berbasis ulama yang telah mengakar kuat tetap berjalan, dengan mekanisme konstitusional yang mengatur proses pemilihan pemimpin tertinggi melalui Majelis Ahli.
Menukil berbagai sumber, sebelum wafat Ali Khamenei dikabarkan telah mempertimbangkan sejumlah tokoh yang dinilai layak melanjutkan kepemimpinan.
Berikut beberapa nama yang dipandang memiliki peluang:
1. Mojtaba Khamenei (56)
Putra kedua Ali Khamenei ini dikenal memiliki pengaruh signifikan di lingkaran dalam kekuasaan.
Ia disebut memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan jaringan Basij.
Namun, peluangnya menghadapi tantangan karena tradisi suksesi keluarga kurang populer di kalangan ulama Syiah Iran.
Selain itu, Mojtaba tidak memegang jabatan resmi dan bukan ulama dengan peringkat tertinggi.
2. Alireza Arafi (67)
Ulama senior ini memiliki pengalaman panjang di lembaga pemerintahan dan saat ini menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar.
Ia juga pernah duduk di Dewan Penjaga serta memimpin sistem seminari Iran. Meski dipercaya menempati posisi strategis, Arafi dinilai tidak memiliki basis politik dan jaringan keamanan yang kuat.
3. Mohammad Mehdi Mirbagheri (60-an)
Sebagai anggota Majelis Pakar yang dikenal berhaluan keras, Mirbagheri mewakili kelompok konservatif garis tegas.
Pandangannya yang keras terhadap Barat dan konflik global menjadikannya figur kontroversial, namun memiliki dukungan dari kalangan tertentu.
4. Hassan Khomeini (55)
Cucu pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, ini memiliki legitimasi historis dan simbolik.
Ia mengelola mausoleum sang pendiri revolusi, tetapi belum pernah menduduki jabatan publik strategis. Dalam beberapa kesempatan, ia dianggap lebih moderat dibanding sebagian ulama lainnya.
5. Hashem Hosseini Bushehri (60-an)
Bushehri merupakan ulama senior yang menjabat wakil ketua pertama Majelis Pakar.
Ia dikenal dekat dengan Khamenei dan aktif dalam struktur lembaga keagamaan, meskipun profilnya cenderung rendah dan tidak terlalu menonjol di ranah politik maupun militer. (Ali)










