KATAKALTIM — Masa awal kehidupan adalah fondasi masa depan anak. Data Susenas Maret 2025 menunjukkan sebanyak 63,88% anak usia 12–23 bulan telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Artinya, masih sekitar 36,12% anak yang belum mendapat imunisasi.
Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan Prima Yosephine menjelaskan, imunisasi adalah suatu upaya menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.
"Imunisasi akan membentuk antibodi spesifik pada individu terhadap penyakit tertentu," sebutnya, dilansir Info BPJS Kesehatan Minggu 29 Maret 2026.
Dampak Jika Anak Tidak Imunisasi
Dampak jika anak tidak imunisasi bisa terjadi di kemudian hari. Ia lebih mudah terserang berbagai penyakit berbahaya. Bukan itu saja, anak juga lebih rentan terkena masalah kesehatan lain akibat malnutrisi. Pasalnya, anak yang berstatus gizi buruk memiliki risiko mudah terserang infeksi akibat penurunan daya tahan tubuh.
Berikut ini beberapa penyakit yang berisiko menyerang anak jika dirinya tidak imunisasi:
Penyakit TBC
Dampak jika anak tidak imunisasi yang pertama adalah rentan terkena TBC.
Untuk mencegah penyakit TBC, bayi sebaiknya diberikan imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG). Vaksin BCG dapat diberikan sejak lahir, yang bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap tubuh.
Untuk memberikan vaksin BCG pada anak di atas usia 3 bulan, ada baiknya dilakukan terlebih dahulu uji tuberkulin, dan BCG dapat diberikan kepada bayi apabila hasil dari tuberkulin negatif. Vaksin TBC ini biasanya diberikan berbarengan dengan imunisasi polio 1.
Hepatitis B
Hepatitis B menjadi salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kehilangan nyawa pada anak akibat infeksi virus pada hati. Vaksin hepatitis B diberikan dalam rangkaian 3 dosis.
Dosis pertama diberikan dalam waktu 24 jam setelah lahir.
Dosis kedua diberikan 1-2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan antara usia 6 bulan dan 18 bulan.
Jarak antara dua imunisasi hepatitis B minimal 4 minggu guna memberikan perlindungan maksimal.
Tetanus
Banyak dari kita yang masih belum familiar dengan penyakit yang satu ini, tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan seringkali fatal akibat infeksi bakteri Clostridium Tetani yang memproduksi toksin (racun).
Racun inilah kemudian akan menyebar ke dalam tubuh dan mengganggu saraf, sehingga otot akan menjadi kaku.
Radang Selaput Otak
Radang selaput otak atau yang dikenal dengan sebutan meningitis.
Pemberian vaksin meningitis B adalah vaksin yang menawarkan perlindungan terhadap bakteri meningokokus grup B.
Polio
Penyakit polio disebabkan oleh infeksi virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf, khususnya pada bayi yang belum melakukan vaksinasi. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan karena virus menyerang sistem saraf pusat.
Cacar Air
Penyakit ini ditandai dengan ruam gatal di bagian tubuh manapun, termasuk di dalam mulut dan di sekitar alat kelamin.
Seiring berjalannya waktu, ruam gatal menyebar ke seluruh area tubuh.
Infeksi saluran pencernaan
Vaksin rotavirus menjadi hal yang sangat penting dalam pencegahan penyakit infeksi rotavirus. Infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, seperti diare akibat peradangan pada saluran cerna.
Virus ini sangat menular dan rentan terjadi pada anak yang berusia dibawah dua tahun. Jadi, pastikan anak mendapatkan vaksin rotavirus sejak usia 6 bulan untuk mencegah penyakit ini.
Data BPS RI menunjukkan persentase kelengkapan imunisasi pada anak, turut dipengaruhi oleh pendidikan ibu.
Semakin tinggi pendidikan yang ditamatkan, semakin tinggi pula capaian imunisasi.
Tamat Perguruan Tinggi 70,56%. Tamat SMA/SMK sederajat 64,97%. Tamat SMP sederajat 62,84%. Tamat SD sederajat 57,81%. Tidak/Belum pernah sekolah/Tidak tamat SD 47,25%. (Cca)










