BONTANG — Rosihan habiskan hari-harinya di atas aspal. Menyusuri jalanan Kota Bontang. Pagi hingga malam.
Ketika banyak orang lalu-lalang dengan motor dan mobil mewah, Rosihan justru memakai sendal jepit berwarna hijau kusam.
38 tahun pria itu menghirup udara dunia. 5 tahun merantau dan jauh dari keluarga.
Ia memilih bertahan hidup dengan menjual jajanan tradisional, namanya rambut nenek. Semacam gula-gula halus berwarna merah muda.
Setiap hari Rosihan membawa dagangannya dari Pasar Taman Rawa Indah. Hingga ke kawasan Berbas, Tanjung Limau, dan di sekolah-sekolah.
Bukan karena gemar atau suka berjalan jauh. Rosihan hanya tak punya banyak pilihan. Meski ikhtiar sudah bergelimang.
“Dari Berbas ujung sampai sini. Jalan kaki,” ucap Rosihan saat dijumpai di Tanjung Limau, Selasa 11 Agustus 2026.
Pendapatan Tak Pasti
Di balik langkahnya yang panjang, ada keluarga di kampung halaman yang menunggu hasil jerih payah Rosihan.
Pendapatannya tak pernah pasti. Dalam sehari ia biasanya mendulang Rp200 hingga Rp300 ribu.
Jika sedang ramai, hasil penjualannya memungkinkan sampai Rp400 ribu. Tapi itu belum untung bersih.
Untuk membuat sekitar 2 kilogram rambut nenek saja, Rosihan butuh modal Rp80 ribu. Belum lagi biaya-biaya lainnya.
Bahkan, Rosihan berucap ada hari ketika dagangannya ramai. Ada pula hari ketika ia hanya membawa pulang sekitar Rp100 ribu.
“Kadang sepi, kadang ramai. Kadang dapat Rp100 ribu sehari. Yang penting kita jalani aja. Berapa pun dapat, kita syukuri,” tuturnya.
Kaki Jadi Kendaraan
Dulu, Rosihan masih bisa pakai motor pinjaman keluarga untuk berjualan. Kini, motor itu sudah kembali ke pemiliknya. Sekarang, hanya kakinya jadi kendaraan.
Kalau tempat yang dituju dekat, ia jalan kaki. Jika jauh sekali, Rosihan hanya berharap ada keluarga bersedia meminjamkan kendaraan.
“Kalau sekitar area dekat-dekat ini jalan kaki. Kalau jauh sekali, kadang pakai motor pinjaman,” imbuhnya.
Jalanan Bontang menjadi bagian dari kesehariannya. Terik matahari, rasa lelah, dan jauhnya perjalanan harus ia lalui demi dagangan yang belum tentu habis terjual.
Namun, Rosihan tetap berjalan. Penuh semangat. Sebab berhenti berjalan menunjukkan arti tak ada penghasilan.
“Kita jalani aja,” ucapnya tersenyum.
Ada Harapan dan Cinta
5 tahun Rosihan ‘membanting harap’ sebagai perantau di Kota Taman.
Ia berkeliling menjual rambut nenek. Sementara istri dan keluarga tetap di kampung halaman.
Ia hanya punya kesempatan berkumpul bersama keluarga setiap Bulan Suci Ramadan.
Ada rindu yang harus ditahan. Ada keluarga yang hanya bisa ditemui pada waktu-waktu tertentu. Tapi, kebutuhan keluarga membuatnya harus kembali berjalan.
Rosihan juga punya dua anak sambung sebagai tanggung jawabnya. Olehnya, kata Rosihan, setiap rupiah yang diperoleh dari jualan rambut nenek memiliki arti hidup.
Bukan hanya uang hasil berdagang. Tapi biaya untuk membantu keluarga agar tetap hidup. Agar bisa belanja beras dan ikan. Itu karena cinta.
Tetap Bersyukur
Di tengah keterbatasannya, Rosihan tak banyak mengeluh. Ia justru memilih bersyukur. Serahkan semuanya kepada Yang Esa.
“Nggak pernah sampai enggak dapat sama sekali. Ada-ada saja. Yang penting keluar, jalan saja,” ucapnya lembut.
Selama berjualan, ia mengaku tak pernah mengalami kejadian buruk saat berkeliling. Bontang memang bagus, katanya. Tidak banyak orang jahat.
“Alhamdulillah nggak ada. Bontang bagus, aman,” tukas Rosihan.
Manakala hari mulai malam, ia masih bisa lanjut berjualan. Setelah Magrib, adakalanya ia menunggu anak-anak mengaji sebelum kembali berjalan.
Begitulah hari-hari Rosihan. Berjalan. Menunggu pembeli. Berharap dagangan habis. Lalu menghitung hasil untuk dibawa pulang.
Perjuangan Tak Terlihat
Di tengah jajanan modern yang makin beragam, rambut nenek mungkin tampak sederhana.
Namun, bagi Rosihan, jajanan itu adalah sumber penghidupan. Harapan untuk tetap bertahan.
Di balik langkah itu ada seorang suami sedang berjuang. Ada seorang perantau yang menahan rindu. Ada keluarga yang menunggu. Dan ada harapan agar hari itu tetap membawa pulang rupiah.
“Yang penting keluar, jalan aja,” ucapnya semangat.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Rosihan, itu adalah cara dan motivasi untuk bertahan.
Sebab Rosihan tahu, tak semua perjuangan harus disaksikan banyak orang. Tak semua kesedihan harus diceritakan.
Dan tak semua orang yang berjalan kaki di pinggir jalan sedang menikmati perjalanan.
Sebagian berjalan karena hidup memaksanya terus melangkah. Seperti Rosihan. Dengan rambut nenek di tangan, ia menyusuri jalanan Bontang. Ia menukar lelah dengan harapan.
Dan setiap hari, Rosihan berusaha membawa pulang sepenggal rezeki, untuk keluarganya di kampung halaman. (Agung)










