Payload Logo
Balikpapan

Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono (dok: Han/katakaltim)

BMKG Prediksi Kemarau di 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering

Penulis: Han | Editor: Agung
27 Maret 2026

BALIKPAPAN — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.

Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan pergeseran musim ini dipengaruhi oleh dinamika iklim global, terutama berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026.

“Sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya,” ujar Djoko, Kamis (26/3/2026).

Berdasarkan data BMKG, kondisi iklim saat ini menunjukkan indeks ENSO berada pada fase netral dengan angka minus 0,28 dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.

Namun, pada pertengahan tahun, peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat mencapai 50 hingga 60 persen.

Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada fase netral sepanjang tahun.

BMKG mencatat, awal musim kemarau secara bertahap mulai terjadi sejak April 2026 di sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia.

Angka tersebut meningkat pada Mei menjadi 26,3 persen, dan pada Juni mencapai 23,3 persen wilayah.

Secara keseluruhan, sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari normal.

Wilayah terdampak meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.

“Memasuki Agustus, kondisi kering diperkirakan semakin meluas dan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan,” kata Djoko.

BMKG juga memproyeksikan sifat musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari biasanya.

Sebanyak 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi di bawah normal, sementara 57,2 persen wilayah lainnya berpotensi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.

Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak dini, terutama di sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

Penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas tahan kekeringan, serta optimalisasi distribusi air menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak.

Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan serta penurunan kualitas udara juga diperkirakan meningkat, khususnya di wilayah rawan seperti Kalimantan.

Djoko juga menegaskan bahwa BMKG tidak menggunakan istilah “Gorilla El Nino” yang sempat beredar di media sosial.

“BMKG tidak mengenal istilah tersebut,” tegasnya. (Han)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025