SAMARINDA — Ribuan titik kebakaran melanda Kota Samarinda 5 tahun terakhir. Bahkan menimbulkan puluhan korban jiwa.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Samarinda mencatat 5 tahun terakhir frekuensi kebakaran mencapai 1.273 kali.
“Kalau jumlah yang terbakar itu semuanya sebanyak 1.289,” ucap Kabid Damkartan Samarinda, Teguh Satya Wardana kepada katakaltim, Senin 24 Maret 2025.
Baca Juga: Breaking: 1 Orang Tenggelam di Samarinda Seberang, Korban Meninggal Dunia
Teguh kemudian merincikan, pada 2020 frekuensi kebakaran mencapai 282 dengan jumlah yang terbakar 356. Luas kebakaran 873.902 meter persegi (M2).
Baca Juga: Kebakaran di Samarinda 2024 Merenggut 6 Nyawa, Ribuan Warga Kehilangan Rumah
KK yang terdampak 286 dengan jumlah jiwa mencapai 1.095. Mengalami luka 9 orang dan menelan korban jiwa 2 orang. Total kerugian mencapai Rp66.104.750.000.
Pada 2021, frekuensi kebakaran mencapai 240 dengan jumlah yang terbakar 176. Luas kebakaran kurang lebih 22.597 M2.
KK yang terdampak sebanyak 291 dengan jumlah jiwa mencapai 824. Mengalami luka 5 orang. Tidak ada korban di tahun ini. Total kerugian mencapai Rp49.295.750.000.
Selanjutnya pada tahun 2021, frekuensi kebakaran sebanyak 227 kali dengan jumlah yang terbakar 254. Luas areal terbakar kurang lebih 151.984 M2.
KK yang terdampak sebanyak 342. Jumlah jiwa mencapai 2.369. Mengalami luka 5 orang. Merenggut 8 nyawa. Total kerugian mencapai Rp79.505.500.000.
2023 frekuensi kebakaran mencapai 258 kali dengan jumlah yang terbakar 258. Luas areal terbakar kurang lebih 60.345 M2.
KK yang terdampak sebanyak 301. Jumlah jiwa mencapai 1.176. Mengalami luka 19 orang. Meninggal 1 orang. Total kerugian mencapai Rp54.019.450.000.
Tahun 2024 frekuensi kebakaran mencapai 266 kali dengan jumlah yang terbakar 250. Luas areal terbakar kurang lebih 24.770 M2.
KK yang kehilangan tempat tinggal sebanyak 353. Berdampak pada 1.122 jiwa. Mengalami luka 8 orang. Meninggal 6 orang. Total kerugian mencapai Rp60.912.170.000.
Dari total keseluruhan, frekuensi kebakaran 5 tahun terakhir mencapai 1.273. Kemudian jumlah yang terbakar sebanyak 1.289.
Sementara itu areal terbakar dengan luas 1.133.562 M2. Kehilangan tempat tinggal sebanyak 1.573 KK. Jumlah jiwa terdampak mencapai 5.586.
Kemudian jumlah orang yang mengalami luka 46. Meninggal dunia sebanyak 17 orang.
“Jumlah kerugiannya mencapai Rp309.837.620.000,” terangnya.
Lebih lanjut Teguh merincikan persentase penyebab kebakaran tersebut.
Namun pihaknya tidak mencatat secara spesifik persentase kebakaran sebelum tahun 2024.
Ternyata penyebab dominan khususnya untuk tahun 2024 adalah arus pendek listrik.
“Kalau dipersentasekan itu arus pendek mencapai 54 persen. Kemudian akibat lalai 44 persen. Yang faktor alam 2 persen. Jadi dominan arus pendek memang,” urainya.
Teguh berharap ke depannya peristiwa kebakaran bisa menurun dan bisa diatasi bersama-sama.
“Semoga ke depannya kita bisa sama-sama antisipasi ini. Kita harus bisa kolaborasi semua pihak,” pungkasnya.
Teguh membeberkan saat Damkartan di lokasi kebakaran, seringkali masyarakat tidak memahami kesulitan pihaknya memadamkan api.
Ia menampik sejumlah keluhan warga yang menganggap bahwa Damkartan tidak siaga dalam menangani persoalan ini.
“Kadangkala kita itu, dan sering-sering terkendala di akses. Rame betul kan aksesnya. Apalagi kalau melalui jalur kota,” katanya.
Untuk itu ia menyarankan kepada seluruh warga Samarinda agar menghindar jika sudah mengetahui ada mobil Damkar yang hendak menggunakan jalur.
“Yaa harusnya kan mereka juga paham kalau kita sudah mau lewat, kan ada tu mereka dengar bunyi. Harusnya mereka menghindar. Karena keadaannya darurat,” papar dia.
Lebih jauh lagi, ketika para petugas Damkartan tiba di lokasi dengan sejumlah unit, mereka terhalau oleh kerumunan warga yang sibuk menonton kejadian.
Belum lagi misalnya puluhan kendaraan yang terparkir berdekatan dengan lokasi kebakaran. Itu membuat unit sulit menuju langkah ke titik lokasi.
“Jadi ada saja hambatannya. Termasuk kalau titik kebakaran di gang, aksesnya sulit. Apalagi kalau masyarakat udah ngumpul, biasanya kita narik selang itu susah,” ungkap dia.
Untuk itu kembali ia mengimbau jika terjadi kebakaran, warga sekitar secepatnya menghindar dulu.
“Karena itu bisa saja halangi kita untuk padamkan apinya,” pungkas Teguh.
Mengutip berbagai sumber, ada beberapa solusi tepat agar terhindar dari bencana kebakaran antara lain:
Memeriksa kabel listrik secara berkala jadi tips mencegah kebakaran. Biarpun tampak baik-baik saja, tetap harus melakukan proses pengecekan.
Sebab bisa saja kabel yang tersembunyi rusak akibat gigitan tikus. Jika tak segera ditangani, kabel tersebut akan menjadi penyebab listrik konslet.
Kemudian mematikan alat elektronik saat bepergian. Penggunaan listrik berlebihan bisa jadi penyebab arus pendek listrik dan meningkatkan potensi kebakaran.
Maka, jangan lupa mencabut semua peralatan elektronik yang tidak digunakan.
Jangan tinggalkan kompor dalam keadaan menyala. Pastikan tetap di dapur selama proses memasak. Tujuannya mengetahui potensi kebocoran tabung gas yang bisa saja memicu kebakaran.
Lilin menjadi salah satu alat penerang saat mati lampu. Penempatannya harus diperhatikan, jangan sampai diletakkan di dekat sofa atau barang yang mudah terbakar.
Agar lebih aman menggunakan lilin, tempatkan dalam gelas dan awasi penggunaannya.
Jauhkan benda mudah terbakar, seperti plastik, kertas, dan kain. Jangan menyimpan benda tersebut di dekat kompor atau lilin.
Karena api dengan cepat menyambar dan menyebabkan kebakaran di dalam rumah.
Selain menyebabkan masalah paru-paru, merokok bisa juga jadi pemicu kebakaran. Jika puntung dibuang saat masih menyala dan tertiup angin, itu bisa saja memicu kobaran api.
Apalagi kalau puntung yang masih menyala menempel di sofa dan benda lain yang mudah terbakar.
Sebaiknya tidak membakar sampah di sekitar rumah. Sama seperti puntung rokok yang masih menyala. Terbangnya sampah yang terbakar bisa menjadi salah satu pemicu kebakaran.
Semoga tipsnya bermanfaat. (Agu)