Payload Logo
Tanggul KPC

Pengawas Lingkungan Hidup DLH Kutim melakukan verifikasi lapangan di PT KPC, Jumat 6 Februari 2026 (dok: istimewa)

Sempat Jebol 2014, Tanggul KPC Diduga Kembali Bermasalah

Penulis: Salsabila Resa | Editor: Agung Ardaus
19 Februari 2026

KUTIM — Fasilitas pengelolaan air milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Kutai Timur kembali disorot.

Setelah sempat meluap pada 2014 dan berujung sanksi miliaran rupiah, kini kolam pengelolaan air perusahaan itu diduga kembali rusak.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur menemukan indikasi aliran air keruh dari area Pelikan Selatan dan Lower Melaso yang mengarah ke Sungai Bendili, anak Sungai Sangatta.

Dugaan ini muncul setelah tim verifikasi lapangan melihat potensi limpasan dengan tingkat kekeruhan tinggi dari wilayah kolam tersebut, Jumat 6 Februari 2026.

Peristiwa ini mengingatkan pada kejadian 2014, ketika kolam Pelikan Selatan dilaporkan mengalami luapan dan perusahaan dikenai denda Rp11,7 miliar oleh pemerintah.

Kepala DLH Kutai Timur, Aji Wijaya Effendi, melalui tim Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa indikasi kerusakan terlihat dari kondisi infrastruktur di Pelikan Selatan serta aliran air yang cukup besar menuju Lower Melaso.

“Karena jembatan dan bangunan Pelikan Selatan mengalami kerusakan. Sehingga kita duga volume air yang cukup besar itu bersumber dari Pelikan Selatan. Kemudian disusul dengan Lower Melaso yang bagian dari proses pengelolaan dari Pelikan Selatan,” ungkapnya, Rabu 18 Februari 2025.

Tak hanya dua kolam itu, DLH juga menemukan indikasi limpasan air cukup besar di kolam Melawi 2.

Kondisi vegetasi yang rusak akibat arus kuat menjadi salah satu tanda besarnya debit air yang keluar dari kolam tersebut.

“Cuman pada saat di lapangan, kami tidak melihat ada kekeruhan. Justru kekeruhan itu terjadi yang kita lihat di Lower Melaso dan Pelikan Selatan,” ungkapnya.

Berdasarkan verifikasi lapangan, DLH menyimpulkan adanya kontribusi aliran air dari fasilitas pengelolaan air KPC terhadap meningkatnya debit air di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

Kata pihak DLH, saat ini sampel air dari lokasi sudah diambil dan menunggu hasil uji laboratorium.

Seluruh temuan lapangan telah diserahkan ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

“Untuk hasil dari verifikasi lapangan, kita menunggu dari Kementerian. Hasil pengujian laboratorium juga menunggu rilis kementerian,” ujarnya.

Meski demikian, sebelumnya pihak KPC membantah adanya tanggul jebol.

General Manager External Affairs & Sustainable Development, Wawan Setiawan, menegaskan yang terjadi hanyalah luapan akibat curah hujan tinggi, bukan kerusakan struktur tanggul.

“Dimana itu? Info tanggul itu darimana? Jadi, di tambang itu kalau hujan besar kadang air mencari titik terendah. Jadi ada overflow di jalan. Isunya kemarin menghambat kepulangan karyawan,” kata Wawan seperti menukil Kaltimpost. (Cca)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025