Payload Logo
Kutim

Objek Wisata Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang (Dok: istimewa)

Dispar Kutim Matangkan Strategi Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat dan Digital

Penulis: Caca | Editor: Agu
26 Oktober 2026

KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pariwisata terus mematangkan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan mengedepankan penguatan masyarakat lokal, ekonomi kreatif, dan promosi digital.

Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Mahriadi, mengatakan kemandirian ekonomi berbasis komunitas menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan sektor pariwisata daerah.

Untuk itu, pembentukan dan pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di tingkat desa menjadi salah satu fokus yang diprioritaskan.

“Kami melakukan pendataan objek wisata yang memberi dampak ekonomi langsung, kemudian disusul pendampingan intensif kepada Pokdarwis,” ujar Mahriadi saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, penguatan kelembagaan masyarakat juga perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sektor ekonomi kreatif.

Integrasi antara produk kreatif masyarakat dan destinasi wisata dinilai dapat memperkuat daya tarik sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Produk UMKM unggulan Kutim, seperti kerajinan tangan, kriya, dan kuliner khas daerah, akan didorong untuk terlibat dalam berbagai agenda festival maupun pusat keramaian wisatawan.

“Ekonomi kreatif berbasis inovasi masyarakat harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ekosistem pariwisata,” ungkapnya.

Di sisi lain, strategi promosi pariwisata juga mulai diperkuat melalui pemanfaatan platform digital.

Menurut Mahriadi, pemasaran tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional, tetapi perlu memanfaatkan media sosial, portal resmi, hingga kolaborasi dengan kreator konten.

“Pemasaran digital adalah kunci utama agar keindahan destinasi Kutim bisa dikenal dengan cepat oleh masyarakat luas,” tuturnya.

Mahriadi menilai strategi pengembangan pariwisata yang dilakukan secara terpadu diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak berantai terhadap perekonomian masyarakat lokal.

“Tujuan akhirnya adalah mewujudkan pariwisata yang mandiri, di mana masyarakat lokal tampil sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi daerahnya masing-masing,” pungkasnya. (Adv)

Dilihat 692 kali