KUTIM – Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memetakan sejumlah tantangan yang masih menghambat optimalisasi pengembangan sektor pariwisata di daerah tersebut.
Persoalan aksesibilitas, fasilitas umum, hingga keterbatasan jaringan komunikasi menjadi sejumlah kendala yang perlu dibenahi.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Mahriadi, mengatakan sejumlah destinasi wisata yang memiliki potensi besar masih sulit dijangkau wisatawan karena akses menuju lokasi belum memadai.
“Jarak tempuh antar-destinasi yang jauh serta kondisi jalan menuju lokasi wisata masih memerlukan peningkatan kualitas yang signifikan masih menjadi kendala utama,” ujar Mahriadi saat ditemui awak media di ruang kerjanya.
Menurutnya, persoalan tidak hanya berkaitan dengan akses darat. Ketersediaan fasilitas umum yang layak dan memenuhi standar di sejumlah objek wisata, khususnya destinasi yang berada di wilayah terpencil, juga belum merata.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kenyamanan wisatawan sekaligus durasi kunjungan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kami menyadari bahwa penyediaan fasilitas publik yang bersih dan layak di area destinasi remote sangat menentukan kepuasan pengunjung,” ungkapnya.
Selain infrastruktur fisik, Mahriadi menyoroti keterbatasan jaringan komunikasi di sejumlah destinasi wisata.
Menurutnya, masih adanya wilayah yang mengalami blank spot menjadi tantangan tersendiri di tengah kebutuhan promosi wisata melalui platform digital.
“Ketersediaan jaringan internet masih menjadi kendala di beberapa objek wisata, padahal sinyal sangat penting untuk mendukung promosi digital,” tuturnya.
Ia menjelaskan, keberadaan jaringan komunikasi memungkinkan wisatawan membagikan pengalaman selama berkunjung melalui media sosial.
Aktivitas tersebut secara tidak langsung dapat menjadi bagian dari promosi destinasi secara organik.
Meski demikian, Dinas Pariwisata Kutim terus melakukan koordinasi dengan instansi teknis terkait untuk menangani berbagai kendala tersebut secara bertahap.
Mahriadi menilai pembenahan infrastruktur dan jaringan komunikasi menjadi bagian penting sebelum pengembangan pemasaran pariwisata dilakukan secara lebih masif.
“Peningkatan infrastruktur dan penghapusan titik blank spot akan terus kami dorong agar industri pariwisata kita dapat tumbuh lebih cepat,” pungkasnya. (Adv)











