NUSANTARA — Di tengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah sudut pandang berbeda hadir dari luar lingkaran resmi perencanaan.
Perspektif ini datang dari dokumentasi mandiri seorang warga yang kini dibukukan dan menjadi bagian dari narasi pembangunan ibu kota baru Indonesia.
Adalah Dian Rana, seorang dokumentator audiovisual yang sejak awal merekam perkembangan IKN secara independen.
Pengalamannya itu kini dirangkum dalam buku berjudul Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar, yang dijadwalkan terbit pada Mei 2026.
Buku ini memuat catatan personal sekaligus dokumentasi lapangan yang merekam dinamika pembangunan IKN dari sudut pandang masyarakat.
Tidak hanya menjadi konsumsi publik, dokumentasi Dian juga ternyata dimanfaatkan oleh kalangan perencana.
Urban planner Sibarani Sofyan mengungkapkan dokumentasi tersebut menjadi salah satu referensi independen dalam memantau perkembangan proyek.
“Sejak awal perancangan Ibu Kota Nusantara, kami selalu berupaya memantau perkembangan pembangunannya dari waktu ke waktu. Dokumentasi yang dilakukan Dian Rana melalui vlog dan kanal YouTube-nya menjadi salah satu sumber independen yang kami gunakan—bahkan untuk menunjukkan progres IKN kepada berbagai pihak,” ucap Sibarani dalam keterangannya, Senin 23 Maret 2026.
Ia juga menilai kehadiran buku ini penting sebagai bagian dari dokumentasi publik yang lebih luas.
“Saya menyambut baik hadirnya buku Di Balik Layar Nusantara sebagai catatan sejarah dari perspektif independen, yang dapat memberikan informasi faktual dan bermanfaat bagi publik,” tambahnya.
Apresiasi serupa datang dari kalangan akademisi. Mohammed Ali Berawi menyebut Dian sebagai saksi sekaligus pelaku dalam proses sejarah pembangunan IKN.
“Dian Rana adalah warga lokal yang menjadi salah seorang saksi dan pelaku sejarah pembangunan Ibu Kota Nusantara. Informasi yang disajikannya hadir secara cepat, objektif, dan bernas—mencakup aspek pembangunan fisik, teknologi, serta manusia,” ungkapnya.
Latar belakang Dian sebagai warga yang tumbuh di kawasan transmigrasi dan sempat bekerja di industri tambang memberi warna tersendiri dalam dokumentasinya.
Ia memilih meninggalkan pekerjaannya demi terjun langsung merekam proses pembangunan IKN dari dekat.
Tanpa membawa nama institusi, Dian hadir sebagai warga biasa yang mengamati, merekam, dan membagikan realitas di lapangan.
Perspektif inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama bukunya—menghadirkan pengalaman pembangunan dari sisi manusia yang merasakannya secara langsung.
Melalui buku ini, pembaca diajak melihat pembangunan IKN bukan hanya dari sisi perencanaan dan kebijakan, tetapi juga dari keseharian masyarakat di sekitarnya.
Kehadiran Di Balik Layar Nusantara diharapkan dapat menjadi pelengkap dalam memahami perjalanan ibu kota baru Indonesia, sekaligus memperkaya narasi publik tentang proyek strategis nasional tersebut. (Han)














