Penulis: Agung Ardaus (Redaktur Katakaltim.com, dan Penggerak JAKFI Nusantara)
Yogyakarta — Kabar duka itu datang tiba-tiba. Menghantam begitu dalam. Sangat Menyesakkan.
Dunia aktivisme dan filsafat Islam di Indonesia seperti hilang satu cahayanya saat kabar AM Safwan tersebar pada Kamis, 16 April 2026, malam.
AM Safwan saat duduk di halaman pondok Pesantren Murtadha Muthahhari (dok: Agung/katakaltim)
Sosok yang selama ini hadir sebagai pengajar, pembimbing, sekaligus sahabat dalam perjalanan intelektual para bibit-bibit penerus yang baru saja tunasnya tumbuh itu, telah berpulang ke Rahmat Allah SWT.
“Salam, mewakili Ibu Andayani dan keluarga menyampaikan, Inalillahi wa innailaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah guru kita: Andi Muhammad Safwan pada pukul 19:16,” demikian pesan singkat yang beredar menghantam jiwa saya. Benarkah?
Pondok Kecil dan Jalan Sunyi
Saya sebetulnya tidak begitu berani mendeskripsikan perjalanan intelektual AM Safwan. Berlika-liku dari segenap dinamika dan tantangan. Ia adalah figur intelektual Indonesia yang tidak terlalu suka diungkit-ungkit namanya. Ia sederhana. Tidak muluk-muluk.
Ia bisa saja mentereng. Terkenal seperti para profesor akademisi di kampus-kampus ternama seperti UGM dan Universitas Indonesia. Atau masyhur di kalangan politisi. AM Safwan punya peluang itu. Sejak dulu.
Tapi ia memilih jalan sunyi. Ia berikhtiar untuk meletakkan pondasi pemikiran di dalam ruangan sempit di Kaliurang, Yogyakarta, yang sampai saat ini masih berupa kontrakan.
Banyak orang penasaran dengan tempat itu. Padahal hanya sepetak tanah dan bangunan yang diisi ruang belajar dan buku-buku. Kecil sekali.
Bahkan hanya bisa menampung sekitar 40-an santri. Itupun harus berdempet-dempetan. Sesekali tempat kajiannya digeser-geser agar terlihat model yang baru. Di wadah itu hanya ada beberapa kamar santri. Rata-rata diisi 3 orang.
Banyak pemuda yang datang ke tempat itu. Dari berbagai latar belakang. Dari yang kaya sampai yang miskin. Dari yang brutal hingga yang sabar.
Silaturahmi Nasional ke-2 JAKFI Nusantara di Yogyakarta (dok: RausyanFikr)
Mereka semua adalah pemuda yang hilang arah pemikirannya, yang hilang arah di kampusnya, di lingkungannya, di berbagai organisasinya. Mereka semua ditampung oleh ruang kecil bernama Pondok Pesantren Murtadha Muthahhari.
Dari sana lah muncul kelompok progresif bernama Jaringan Aktivis Filsafat Islam (JAKFI) Nusantara. AM Safwan adalah koordinatornya.
Jaringan ini menjangkau berbagai daerah. Dari Sabang sampai Merauke. Punya domain di kampus-kampus. Baik kampus kecil maupun kampus besar.
Mereka itu sudah berakar. Generasinya banyak. Ribuan. Sudah banyak juga yang berumah tangga. Belum lagi mereka yang lahir langsung dari rahim pondok kecil tersebut.
Gerakan ini masih eksis. Bahkan semakin progresif. Berkat semangat dedikasi dan kesederhanaan AM Safwan yang sering ia tampilkan.
Ustadz—begitu sering saya menyapanya—bukan semata-mata pengajar. Ia adalah penempuh jalan sunyi di jalan ilmu yang tidak selalu gemerlap.
Ustadz mulai menanam paradigmanya sejak akhir abad 20 lalu. Tepat di akhir-akhir era Orde Baru. Hampir 30 tahun ia konsisten di jalan intelektual. Hingga akhir hayatnya.
Falsafah Sosial AM Safwan
Di institusi RausyanFikr, di kelompok JAKFI, dan di Pesantren Madrasah Murtadha Muthahhari, ia sebagai sosok pembimbing tanpa meninggikan diri. Tanpa dominasi.
“Dicium tangannya pun ustadz tidak mau,” kata para Santri.
AM Safwan saat bersama santrinya (dok: RausyanFikr)
Memang ia tampak sangat teduh. Amat tekun. Ustadz bahkan mengajar bukan untuk didengar dan menghegemoni para santri. Tapi untuk dipahami.
Lelaki yang lahir pada 6 Mei 1973 itu memang selama ini sabar sekali mendengarkan murid-muridnya. Mengoreksi mereka dengan lembut. Dan membuka cakrawala berpikir para santri tanpa pernah memaksakan mereka ikut ideologi ini atau ideologi itu.
Bagi para muridnya, tentu saja kehilangan ini terasa begitu personal. Memukul imajinasi gerakan 2030. Santri merasa seperti pohon yang nyaris tercerabut dari akarnya. Dan bahkan bagi mereka yang belum pernah bertemu langsung dengannya, juga turut berduka. Meneteskan air mata.
Ada satu kalimatnya yang singkat, padat, dan menyentuh sekali. Mungkin itulah falsafah sosialnya. Kalimat itu menggema di benak banyak orang. Khususnya para santri. Intinya adalah harapan untuk tidak menghegemoni.
“Apa yang membahagiakan dalam berfilsafat adalah ketika kita sudah tidak membangun upaya untuk mendominasi orang lain. Ketika kita tidak memiliki watak hegemoni. Kita bahagia saat setiap pandangan dunia kita menjadikan kita terbebas dari ideologi-ideologi yang tidak memiliki watak kemanusiaan,” demikian yang selalu ia sampaikan, dan sering disebarkan oleh ribuan santrinya.
Pastinya kalimat ini bukan hanya pikiran-pikiran kosong. Kalimat ini adalah cara hidup yang dijalani ustadz AM Safwan hingga akhir hayatnya.
Dalam kesederhanaan, ia menolak dominasi. Di kedalaman berpikirnya, ia menjauh dari sikap merasa paling benar. Sekalipun terpampang kebenaran terang terhadap apa yang kerap dituturkannya.
Begitulah pandangan saya. Mungkin menurut sidang pembaca yang budiman berbeda. Tapi memang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk satu hal: ilmu. Dalam keterbatasannya, ia tetap mengajar. Dalam sunyi, ia tetap menulis dan berdiskusi. Dalam lelah, ia tetap membersamai para pencari kebenaran.
Tapi, kenapa harus di usia 53 tahun ia pergi? Masih muda sekali. Kabarmu ini membuat tangis bagi ribuan santri.
Perjumpaan dengan Senyuman Tipis
Saya tidak akan banyak bercerita bagaimana dinamika RausyanFikr dan proses perjalanan pengembangan JAKFI di setiap daerah.
Karena masing-masing santri sudah hampir mengetahui bagaimana model gerakan yang selama ini dibangun oleh ustadz Safwan.
Saya hanya akan sedikit bercerita ihwal pertama kali perjumpaan dengan beliau. Sebagai catatan penting untuk diabadikan dalam tulisan ini.
Waktu itu, saya bersama Wandi, pemilik katakaltim.com saat ini, menggebu-gebu di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, untuk mengembangkan diri. Sebab muncul ketidakpastian sosial dan masa depan. Mau jadi apa kita ini?
Sesaat setelah kami membaca karya-karya Iqbal Lahore, Sachiko Murata, Murtadha Muthahhari, Muhammad Baqir Shadr dan Ali Syariati, kami betul-betul penasaran dengan jalan pemikiran mereka.
Kebetulan saja kami menemukan alamat RausyanFikr di dalam buku Ali Syariati dengan judul Ummah Immah. Kami cermati. Ternyata penerbitnya juga sama: RausyanFikr.
Tidak menunggu lama, waktu itu, awal tahun 2015, Wandi nekat diri menjual kendaraannya (motor).
Saya ingat waktu itu Mio berwarna hijau. Dijual sebagai modal berangkat ke Jogjakarta. Terjual tidak cukup sehari. Laku. Karena murah.
Kami berangkat tanpa halangan berarti. Bahkan tidak pamit kepada orang tua dan siapapun waktu itu.
Kami pergi dengan rasa banyak dosa. Merasa tidak mungkin memberikan kontribusi terhadap pengembangan sosial manakala isi otak semuanya adalah “sampah”.
Kami bahkan berangkat dengan meninggalkan studi berjalan semester 8 di Fakultas Hukum Universitas Andi Djemma atau Unanda Kota Palopo.
Kami berangkat. Dan sangat terkejut. Kali pertama injak kaki di tanah Jawa. Tiba-tiba sudah ada di pulau lain. Tepatnya di Kaliorang, Kota Pendidikan, Jogjakarta.
Tak ada satupun manusia di Jogjakarta yang kami kenal. Awalnya kami heran. “Pondoknya mana?” tanya Wandi kepada saya yang juga tidak mengetahui apa-apa.
Waktu itu kami melihat orang berjalan menggunakan sarung, songkok (kopiah) putih, dan berbaju putih. “Nah mungkin ini Santrinya,” tegas Wandi lagi mengira-ngira.
Tak lama berselang kami bertanya kepada orang di sekitar kompleks Kaliurang itu. Namanya M. Ruh. Suaranya lembut. Dia orang Halmahera. Ternyata santri juga. Katanya sudah lama di pondok.
Lama berbincang-bincang dengan beliau. Dan membuat kami semakin tertarik dengan RausyanFikr ini.
Halaman pondok Murtadha Muthahhari, saat AM Safwan mengajar murid-muridnya (dok: Agung/katakaltim)
Kemudian ia menunjukkan kami pondok. Di lorong kecil. Itulah Madrasah Murtadha Muthahhari. Kecil sekali. Pagarnya hanya satu. Ukuran lebar sekitar 2 meter. Berwarna hitam waktu itu. Sedikit berkarat.
“Wahh inikah pondoknya bang?” tanya Wandi lagi dijawab oleh M. Ruh dengan singkat sekali “Iya ini.” Saya dan Wandi geleng-geleng kepala dan hampir ketawa terbahak-bahak.
Tetapi ada sosok berbaju putih memegang buku coklat kehitam-hitaman duduk di depan teras kecil. Ia sangat serius. Dan kami tunda tertawa.
Sesaat setelah itu ia menoleh. Melihat kami beberapa detik. Dengan senyum tipis. Giginya yang rata muncul sedikit. Itu lah ustadz Safwan.
Dari situ kami semakin yakin dengan RausyanFikr. Sejak dari tatapan dan senyuman pertama. Seperti ada semacam benda yang mendongkrak semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Saya meyakini betul, santri-santrinya, para alumni pondok, dan bahkan mereka yang menimba ilmunya, sekalipun belum pernah berjumpa langsung dengannya, akan terus melanjutkan perjuangannya. Pun dalam porsi, posisi, dan profesi yang berbeda-beda.
Wafat di Jalan Ilmu
Kembali ke Rahmat Allah SWT tak bisa dihindari. Kini Ustadz Safwan pergi. Ia wafat di jalan yang ia cintai—jalan ilmu.
Makam AM Safwan di Yogyakarta (dok: RausyanFikr)
Tapi ruang-ruang yang dulu ia isi tidak akan pernah benar-benar kosong. Pikiran-pikirannya, cara ia memandang dunia, dan cara ia memperlakukan manusia, akan terus hidup dalam ingatan dan kebijakan para santrinya.
AM Safwan berani memilih jalan senyap. Tapi bermakna. Mungkin saja setelah ini, akan ada gerakan baru yang terkonsolidasi masif untuk menggelar tikar pengetahuannya.
Dan bagi banyak orang yang pernah disentuhnya, kepergian ini bukan hanya kehilangan. Tapi pengingat bahwa hidup yang sederhana, manakala diabdikan sepenuhnya untuk pengetahuan dan kemanusiaan, akan meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar hilang. Bahkan semakin tumbuh dan berkembang. (*)
Agung Ardaus, Sabtu 18 April 2026, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur.









