KATAKALTIM — Fenomena Godzilla El Nino ramai dibicarakan dan menimbulkan kekhawatiran. Namun, seberapa berbahaya sebenarnya dampaknya?
Menukil laman Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dosen pertanian Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Intan Rohma Nurmalasari menggambarkan kondisi El Nino tahun ini dengan intensitas yang jauh lebih kuat dibanding biasanya.
“Ini bukan sekadar El Nino biasa, tapi kombinasi antara pemanasan laut ekstrem dan umpan balik atmosfer yang lebih kuat,” jelasnya, dilansir Selasa 28 April 2026.
Kondisi ini disebut Godzilla El Nino. Katanya, ini bukan istilah ilmiah, tapi menggambarkan anomali suhu laut yang sangat tinggi dan berlangsung lama, sehingga dampaknya lebih luas dan lebih ekstrem.
Picu Kekeringan Ekstrem dan Gangguan Iklim
Menurut Intan, El Nino terjadi karena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mengganggu pola cuaca global.
Namun pada kondisi “Godzilla”, pemanasan tersebut melampaui batas normal dan memicu gangguan yang lebih besar.
Akibatnya, suhu udara meningkat, pola angin berubah, dan curah hujan menurun secara signifikan.
Dampak ini sangat terasa di Indonesia dalam bentuk kekeringan yang lebih panjang.
Meski kondisi saat ini belum ekstrem, Intan menekankan bahwa sektor pertanian tetap menjadi sektor yang paling rentan terhadap fenomena El Nino.
“Sektor pertanian sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan, terutama pada fase-fase kritis tanaman seperti perkecambahan, pembungaan, dan pengisian biji,” ujarnya.
Dalam kondisi ekstrem, imbuhnya, penurunan produktivitas bahkan bisa mencapai 20 hingga 50 persen, tergantung jenis tanaman dan kondisi lahan.
“Selain itu, stres air juga memperparah serangan hama dan penyakit,” terang Kaprodi Agroteknologi itu.
Intan mengkategorikan jenis tanaman dan dampaknya:
- Sangat rentan: padi dan sayuran daun karena membutuhkan air yang banyak, sensitif di fase kritis pertumbuhan, dan kualitas dan rentan menurun.
- Cukup rentan: jagung dan kedelai. Jagung cukup rentan saat fase pembungaan dan kedelai bisa terpengaruh kekeringan saat pembentukan polong.
- Relatif tahan: singkong, sorgum, dan ubi jalar
“Menurut analisis saya, ke depan komoditas tahan kering seperti sorgum berpotensi menjadi alternatif strategis dalam menghadapi iklim ekstrem,” tuturnya.
Picu Krisis Pangan Jika Tidak Diantisipasi
Dampak El Nino tidak hanya berhenti di lahan pertanian, tetapi juga berpengaruh pada sistem pangan secara luas.
Intan menjelaskan bahwa kekeringan akan menyebabkan penurunan debit air irigasi dan meningkatkan risiko gagal panen, terutama di lahan tadah hujan.
Akibatnya, produksi menurun dan mendorong kenaikan harga pangan.
“Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa melemahkan ketahanan pangan nasional, terutama pada komoditas strategis seperti beras,” tandas Ketua Pusat Studi SDGs Umsida itu. (*)












