Payload Logo
Riyawan

Pengamat sosial dan budaya, Riyawan (dok: Pribadi)

OPINI: Kenapa Ekonomi Terasa Makin Berat Padahal Katanya Tumbuh? Ini Fakta yang Jarang Dibahas

Penulis: Riyawan | Editor: Agung
15 Agustus 2026

Penulis: Riyawan (Pemerhati Sosial dan Budaya)

KATAKALTIM.COM — Pernah nggak sih kamu ngobrol santai sama tetangga, teman kantor, atau pedagang langganan, lalu iseng bertanya, Gimana sekarang, dagangan masih ramai? Kerjaan masih aman?

Jawabannya hampir selalu mirip. Ada yang tertawa kecil sambil bilang, Ya begini deh. Ada yang cuma menghela napas panjang. Bahkan ada yang langsung curhat soal cicilan, harga kebutuhan pokok, sampai pelanggan yang makin sepi.

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Banyumasan, mungkin kalimat yang paling pas adalah Nyong ya mumet, rika ya mumet. Aku pusing, kamu juga pusing.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan. Survei terbaru menunjukkan semakin banyak masyarakat yang menilai kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Yang menarik, kondisi ini terjadi ketika pemerintah masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang terlihat cukup stabil.

Lalu muncul pertanyaan besar. Kalau ekonomi benar-benar tumbuh, kenapa dompet masyarakat justru terasa makin tipis? Mari kita bahas tanpa bahasa ekonomi yang ribet.

Survei Terbaru Bikin Kaget

Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada akhir Juli 2026 menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan.

Hanya sekitar 15,7 persen masyarakat yang menilai kondisi ekonomi nasional sedang baik atau sangat baik. Sebaliknya, hampir separuh responden menganggap ekonomi sedang buruk bahkan sangat buruk. Angka ini menjadi salah satu tingkat kepuasan ekonomi terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Yang lebih mengejutkan lagi, penurunannya berlangsung sangat cepat. Jika pada akhir 2025 masih banyak masyarakat yang optimistis terhadap kondisi ekonomi, kini kepercayaan tersebut turun drastis hanya dalam hitungan bulan.

Sementara itu, pemerintah tetap menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi berada di kisaran lima persen dan kondisi fiskal negara masih relatif kuat.

Di atas kertas memang terlihat baik. Namun masyarakat tidak hidup di dalam grafik, tabel, atau presentasi ekonomi. Masyarakat hidup di pasar. Di warung. Di toko kecil. Di pabrik. Di sawah. Dan yang mereka rasakan setiap hari sering kali berbeda dengan angka-angka yang disampaikan. Inilah yang kemudian memunculkan jurang antara data makro dengan kenyataan sehari-hari.

Kenapa Ekonomi Terlihat Bagus

Ada beberapa alasan mengapa banyak orang merasa kondisi ekonomi semakin berat meskipun pertumbuhan nasional masih positif.

Daya beli masyarakat mulai melemah

Banyak keluarga kini lebih berhati-hati mengeluarkan uang. Belanja yang sebelumnya dianggap biasa kini mulai dipikir dua atau tiga kali. Bahkan barang yang sebenarnya dibutuhkan pun kadang ditunda pembeliannya.

Kondisi ini terlihat dari fenomena deflasi yang sempat terjadi beberapa bulan berturut-turut. Sekilas harga yang turun memang terdengar menyenangkan.

Namun dalam dunia ekonomi, deflasi yang disebabkan masyarakat mengurangi belanja justru menjadi sinyal bahwa daya beli sedang melemah. Ketika konsumen membeli lebih sedikit, perusahaan otomatis menjual lebih sedikit.

Kalau penjualan turun terus, produksi ikut dikurangi. Akibatnya? Jam kerja berkurang. Rekrutmen dihentikan. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang akhirnya melakukan PHK.

Kelas menengah mulai kehilangan daya tahan

Kelompok kelas menengah selama ini menjadi motor utama konsumsi nasional. Sayangnya, jumlah masyarakat yang masuk kategori kelas menengah terus menyusut. Sebaliknya, semakin banyak masyarakat masuk kelompok rentan atau menuju kelas menengah.

Artinya mereka memang belum miskin. Tetapi kondisi keuangannya sangat rapuh. Sekali terkena musibah seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau usaha menurun, mereka bisa langsung jatuh ke bawah garis aman finansial.

Tidak heran kalau sekarang banyak orang memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya.

Ramainya mal belum tentu tanda ekonomi sehat

Banyak orang beranggapan bahwa pusat perbelanjaan yang penuh berarti kondisi ekonomi sedang baik. Padahal belum tentu demikian. Saat ini hampir semua barang bisa dibeli menggunakan cicilan. Mulai dari ponsel, motor, elektronik, sampai kebutuhan sehari-hari tersedia fasilitas paylater maupun kredit.

Akibatnya banyak orang tetap terlihat konsumtif. Padahal kondisi keuangan sebenarnya sedang tidak sehat. Tagihan menumpuk. Tabungan menipis. Penghasilan habis sebelum akhir bulan. Fenomena seperti ini cukup berbahaya jika berlangsung terlalu lama karena bisa memicu krisis utang rumah tangga.

Rasa khawatir lebih cepat menyebar dibanding kabar baik

Ekonomi bukan hanya soal uang. Tetapi juga soal kepercayaan. Saat masyarakat mulai merasa masa depan tidak pasti, mereka otomatis lebih memilih menahan pengeluaran. Mereka menabung bukan karena ingin investasi.

Melainkan karena takut sewaktu-waktu kehilangan pekerjaan. Semakin banyak orang berpikir seperti itu, roda ekonomi ikut melambat.

Bukan Sekadar Angka

Bagi sebagian orang, penutupan sebuah pabrik mungkin hanya menjadi berita di media. Namun bagi ribuan pekerja di dalamnya, itu berarti kehilangan sumber penghasilan. Cicilan rumah mulai macet. Biaya sekolah anak menjadi beban. Belanja dapur harus dikurangi.

Bahkan kesehatan mental ikut terganggu karena tekanan ekonomi. Begitu juga ketika harga kebutuhan pokok naik sedikit demi sedikit. Mungkin secara statistik kenaikannya terlihat kecil. Tetapi bagi keluarga yang penghasilannya pas-pasan, selisih puluhan ribu rupiah setiap minggu sangat terasa.

Hal-hal seperti inilah yang sering luput jika ekonomi hanya dilihat dari angka pertumbuhan. Masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar laporan bahwa ekonomi sedang tumbuh. Mereka ingin merasakan manfaatnya secara langsung.

Lapangan kerja yang tersedia. Pendapatan yang meningkat. Harga yang stabil. Serta peluang usaha yang benar-benar berkembang. Bantuan sosial juga tetap penting.

Namun masyarakat tentu berharap bantuan tersebut diberikan secara tepat sasaran dan mampu meningkatkan kemandirian, bukan sekadar menjadi solusi sementara.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan sesaat, tetapi kesempatan untuk hidup lebih baik.

Nyong Mumet, Rika Mumet, Tapi Masih Ada Jalan Keluar

Menghadapi situasi ekonomi seperti sekarang memang tidak mudah. Namun bukan berarti kita hanya bisa pasrah. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan agar kondisi keuangan tetap lebih aman.

Pertama, mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Promo besar, flash sale, hingga diskon memang menggoda. Tetapi jangan sampai semua dibeli hanya karena sedang murah. Murah bukan berarti harus dibeli.

Kedua, usahakan memiliki dana darurat sedikit demi sedikit. Tidak harus langsung puluhan juta rupiah. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin.

Ketiga, hindari utang konsumtif yang sebenarnya bisa ditunda. Paylater memang praktis. Namun jika digunakan tanpa perhitungan, justru menjadi sumber masalah baru.

Keempat, terus meningkatkan kemampuan diri. Belajar keterampilan baru, memperluas jaringan, hingga mencari peluang penghasilan tambahan bisa menjadi bekal menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Dan yang paling penting, jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri ketika kondisi keuangan sedang sulit. Tidak semua persoalan berasal dari kesalahan individu.

Ada faktor ekonomi global, perubahan industri, perkembangan teknologi, hingga kebijakan yang memang berada di luar kendali masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat bawah.

Keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya terlihat di laporan resmi, tetapi juga terasa di meja makan keluarga, di pasar tradisional, di UMKM, hingga di kawasan industri. Karena pada akhirnya, ukuran ekonomi yang sehat bukan hanya soal angka pertumbuhan lima persen atau lebih.

Ukuran sebenarnya adalah ketika masyarakat bisa bekerja dengan tenang, memenuhi kebutuhan keluarga tanpa rasa cemas, memiliki tabungan untuk masa depan, dan tetap optimistis menghadapi hari esok.

Jadi kalau hari ini kamu merasa kondisi ekonomi sedang berat, percayalah kamu tidak sendirian. Banyak orang merasakan hal yang sama. Nyong ya mumet, rika ya mumet. Namun selama kita memahami akar persoalannya, mengelola keuangan dengan lebih bijak, serta berharap kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak kepada masyarakat, selalu ada peluang untuk bangkit.

Sebab ekonomi yang benar-benar sehat bukan yang paling sering dipuji di atas podium, melainkan yang paling nyata manfaatnya di rumah-rumah masyarakat Indonesia. (*)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025