PENAJAM — Sejumlah personel yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi penanganan karhutla, terutama terkait perlunya pemeriksaan kesehatan bagi petugas yang bekerja di lapangan.
Plt Kepala Bapelitbang PPU Ade Rianto Embong Bulan, menyampaikan sejumlah anggota tim yang terlibat dalam penanganan karhutla mulai mengalami kondisi kesehatan yang menurun.
Karena itu, dia meminta dukungan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) agar pemeriksaan terhadap personel tidak terbatas pada keluhan tertentu.
“Tim kami ini sudah banyak yang tumbang. Mohon juga untuk pemeriksaan kesehatan. Jangan cuma asam urat, karena yang lalu itu asam urat saja, tetapi tidak diperiksa pernapasan dan kulit,” ucap Ade, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dibutuhkan karena personel harus menjalankan tugas di lokasi kebakaran.
Selain anggota Brigade Karhutla, perhatian juga diharapkan diberikan kepada petugas lain yang terlibat langsung dalam kegiatan penanganan di lapangan.
“Mohon pak dokter (Plt. Kadinkes PPU, Lukas ES) untuk ditindaklanjuti, karena memang ada yang sudah tumbang,” pesannya.
Menurutnya, kondisi kesehatan personel perlu menjadi bagian dari evaluasi pelaksanaan tugas.
Pemeriksaan yang lebih menyeluruh diharapkan dapat membantu mengetahui keluhan yang dialami anggota sehingga tindak lanjut dapat diberikan sesuai kebutuhan medis.
Meski terdapat anggota yang mengalami gangguan kesehatan, ia menegaskan bahwa tanggung jawab penanganan karhutla tetap dijalankan.
Untuk menjaga keberlangsungan tugas, tim berencana membagi personel menjadi dua kelompok yang bekerja secara bergantian.
“Kami ingin membagi dua kelompok, kelompok A dan kelompok B. Mereka saling berganti untuk melaksanakan tugas-tugas mendampingi di lapangan,” katanya.
Menanggapi laporan tersebut, Sekda PPU Tohar mengakui perlunya penyempurnaan pencatatan unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Ia menjelaskan Brigade Karhutla merupakan bagian dari unsur pendamping yang bergerak bersama BPBD dalam kegiatan di lapangan.
Tohar juga menekankan bahwa kolaborasi harus mencakup seluruh unsur, baik tim inti maupun personel pendukung.
Dengan pencatatan yang lengkap, kontribusi masing-masing pihak dapat terlihat dalam evaluasi penanganan.
Laporan mengenai kondisi kesehatan personel ini menjadi pengingat bahwa kesiapan penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan peralatan dan koordinasi.
Kondisi fisik petugas juga perlu diperhatikan agar pelaksanaan tugas dapat berlangsung dengan aman dan berkelanjutan. (Adv)














