KALTIM — Kalimantan Timur berpeluang ditetapkan sebagai Geopark Nasional ke-27 setelah usulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memasuki tahap revisi dokumen.
Hal tersebut mencuat dalam Bincang-Bincang Parekraf bertema “Dua Warisan, Satu Pesona Kalimantan Timur”, diselenggarakan Dinas Pariwisata Kaltim di Big Mall Samarinda.
Pegiat lingkungan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Niel Makinuddin, mengatakan proses pengusulan telah diajukan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, sejak Agustus 2025 lalu.
Tahapan berikutnya berupa review dokumen yang mencakup rencana induk, kelembagaan, serta dosier atau proposal geopark.
“Dua-duanya sudah lolos,” kata Niel pada Awak media usai diskusi pada Kamis (20/8/2026).
Tahapan kemudian berlanjut dengan verifikasi teknis oleh Tim Verifikasi Geopark Nasional (TVGN).
Tim verifikator tersebut telah melakukan kunjungan lapangan ke wilayah Kutai Timur dan Berau pada 6-10 Juli 2026.
Menurut Niel, dari hasil kunjungan tersebut terdapat sejumlah catatan yang kini tengah diperbaiki.
Revisi dokumen selanjutnya akan dibahas dalam forum group discussion (FGD), sebelum tim verifikasi menyampaikan rekomendasi kepada kementerian ESDM.
“Mudah-mudahan lulus cumlaude ya. Kita akan tahu secara itu pada akhir Oktober tahun ini,” ujarnya.
Secara resmi, penetapan Geopark Nasional diperkirakan diumumkan pemerintah pusat melalui surat keputusan pada awal 2027, sekitar Maret hingga Mei.
Jika ditetapkan, Sangkulirang-Mangkalihat akan menjadi Geopark Nasional ke-27 di Indonesia.
Niel menyebut kualitas kawasan tersebut bahkan dinilai tim verifikasi dengan standar Geopark Global.
“Kaltim ini mengusulkan status GeoPark Nasional tapi kualitasnya yang ditinjau itu GeoPark Global,” ungkap Niel.
Salah satu tantangan utama setelah penetapan status adalah pembangunan infrastruktur.
Kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat mencapai luas kawasan sekitar 26.634 kilometer persegi.
Kawasan ini memiliki karakter karst yang lengkap, mulai dari karst pedalaman, pesisir hingga pulau-pulau kecil.
Menjadikannya kawasan dengan bentang alam karst tropis terluas dan terlengkap di Indonesia.
Kondisi tersebut sekaligus menjadikan kawasan karst penting sebagai penyimpan air, terutama di wilayah pesisir kabupaten Berau hingga Kutai Timur.
“Sangkulirang-Mangkahaliat itu from ridges to reefs, dari pegunungan hingga ke terumbu karang, artinya karstnya itu lengkap,” jelasnya.
Di samping itu, Niel mengingatkan kerusakan ekosistem karst dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat di sekitar kawasan.
“Kalau kars ini rusak, ancaman terbesar itu akan kesulitan air warga yang ada di pesisir terutama,” pungkasnya. (Deni)











