Payload Logo
Seminar Santri Bisa

Seminar Santri Bisa di Khatamun Nabiyyin (dok: istimewa)

Santri Bisa: BRIM Khatamun Nabiyyin dan Medulla Dorong Literasi Kesehatan di Pesantren

Penulis: Agu | Editor:
30 Agustus 2026

JAKARTA — Pesantren selama ini lebih sering dipahami sebagai ruang pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter. Namun, kehidupan santri yang berlangsung dalam lingkungan komunal juga menghadirkan persoalan kesehatan yang membutuhkan pengetahuan, kesadaran, dan pencegahan sejak dini.

Kesadaran tersebut mendorong Badan Riset dan Intelektual Mahasantri (BRIM) Khatamun Nabiyyin menggelar Seminar Edukasi Kesehatan Nasional bertajuk “Santri Bisa (Bersih, Sehat, Aktif)” di Auditorium Pesantren Khatamun Nabiyyin, Jakarta Timur.

Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Yayasan Medulla Literasi Medika, dengan mengusung tema “Transformasi Kesehatan Pesantren melalui Sosialisasi, Skrining Gratis, dan Telekonsultasi Digital.”

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 penerima manfaat, terdiri atas santri, mahasantri, dan asatidz Pesantren Khatamun Nabiyyin. Selain memperoleh edukasi, peserta mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan skrining klinis dasar secara gratis.

Program ini juga memperkenalkan pemanfaatan telekonsultasi digital serta cara menyampaikan keluhan kesehatan secara lebih sistematis kepada tenaga medis. Peserta mendapat materi mengenai kondisi kegawatdaruratan (emergency), tanda-tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera, serta kapan seseorang perlu berkonsultasi atau datang ke dokter.

Literasi Kesehatan bagi Generasi Z

Direktur Utama BRIM Khatamun Nabiyyin, Aswar Alimuddin, mengatakan literasi kesehatan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengetahuan dasar santri, sebagaimana literasi keilmuan dan keagamaan.

“Literasi kesehatan harus diposisikan sebagai pengetahuan mendasar bagi setiap santri, setara dengan literasi keilmuan dan agama. Menjaga kesehatan bukan sekadar berobat ketika jatuh sakit, melainkan memahami tubuh, menerapkan pola hidup bersih, melakukan pencegahan dini, serta memiliki kapasitas mengambil keputusan medis secara rasional,” ujar Aswar.

Menurut Aswar, pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat karena pendidikan di dalamnya tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengimbau para santri sebagai bagian dari Generasi Z untuk lebih kritis terhadap informasi kesehatan yang mereka temui di ruang digital.

“Santri sebagai generasi Z perlu memiliki kesadaran kesehatan yang baik. Jangan sampai kemudahan memperoleh informasi di media sosial justru membuat kita merasa sudah cukup tahu tentang kesehatan. Informasi digital penting, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan pertimbangan tenaga medis. Karena itu, santri perlu mengetahui bagaimana menjaga kesehatan, mengenali gejala, mengetahui kondisi yang bersifat emergency, dan memahami kapan harus segera ke dokter,” katanya.

Menurut dia, kemampuan tersebut penting agar generasi muda tidak terjebak pada dua kondisi: mengabaikan gejala yang membutuhkan penanganan segera atau melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari internet.

Dari Pengobatan ke Pencegahan

Pendekatan tersebut sejalan dengan misi Medulla Literasi Medika, yang bergerak dalam edukasi medis dan literasi kesehatan digital.

Pendiri Yayasan Medulla Literasi Medika, dr. Laila Rahmah, S.Si., MBBS, M.Sc, alumnus Tehran University of Medical Sciences, Iran, mengatakan persoalan kesehatan masyarakat tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan fasilitas medis. Pengetahuan dan keberanian untuk mengakses layanan kesehatan juga menjadi faktor penting.

Edukasi kesehatan, kata Laila, perlu membantu masyarakat mengenali kondisi tubuh, memahami langkah pencegahan, dan mengetahui kapan harus berkonsultasi dengan tenaga profesional. Dengan begitu, masyarakat tidak terus berada dalam pola menunggu penyakit menjadi berat sebelum mencari pertolongan.

Dalam sesi kesehatan asrama, dr. Nur Rahmi, MBBS, alumnus Hubei University of Medicine, membahas sejumlah persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan santri. Materi mencakup pencegahan infeksi saluran pernapasan atas, scabies yang berpotensi menular melalui penggunaan fasilitas bersama, pemenuhan gizi seimbang melalui konsep “Piring Makanku”, serta pengelolaan stres dan kesehatan mental.

Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pengenalan kondisi emergency dan pentingnya menentukan kapan suatu keluhan dapat ditangani melalui konsultasi rutin dan kapan membutuhkan pertolongan medis segera.

Para santri diperkenalkan dengan metode OLD CARTS untuk membantu menggali dan menyampaikan informasi mengenai keluhan kesehatan secara lebih terstruktur ketika berkonsultasi dengan tenaga medis. Materi lainnya mencakup persiapan informasi pengobatan, akses layanan melalui BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan tingkat pertama, hingga pemahaman dasar mengenai penanganan kondisi kegawatdaruratan.

Kolaborasi Dokter Lulusan Dalam dan Luar Negeri

Program “Santri Bisa” melibatkan sejumlah dokter dengan latar belakang pendidikan medis dari dalam dan luar negeri. Selain dr. Laila Rahmah dan dr. Nur Rahmi, tim medis terdiri atas dr. Allysa Tasya Milano, MBBS; dr. Nurul Wira Tri Pratama, MBBS; dr. Safira Salsabila, MBBS; dr. Cut Shanaz Dhiya Shafira, M.K.M; dr. Stefanie Gifta, MBBS; dan Dr. dr. Seno Lamsir, Sp. DVE, MMedSc, MMed, MBBS.

Diskusi interaktif bersama para santri dipandu Ustazah Nadia Rumain sebagai moderator.

Bagi BRIM Khatamun Nabiyyin, kolaborasi dengan Medulla merupakan bagian dari upaya memperluas cakrawala pendidikan pesantren. Pendidikan santri tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu agama, tetapi juga kemampuan memahami dan mengelola berbagai persoalan kehidupan, termasuk kesehatan diri dan lingkungan.

Program “Santri Bisa” diharapkan menjadi langkah awal membangun budaya literasi kesehatan di lingkungan pesantren. Orientasinya bukan sekadar menyediakan pemeriksaan ketika penyakit muncul, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan merupakan bagian dari pendidikan dan kualitas hidup.

Pada akhirnya, paradigma kesehatan di pesantren diharapkan dapat bergerak dari menunggu sakit lalu berobat menuju mengenali, mencegah, dan merawat kesehatan sejak dini. Bagi generasi muda, kesadaran tersebut bukan hanya soal menjaga tubuh, tetapi juga membangun kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas kesehatan dirinya. (Agu)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025