PENAJAM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat tidak ada kasus rabies yang terlaporkan sejak 2005.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap menjaga kesiapsiagaan karena kasus gigitan hewan penular rabies masih ditemukan di masyarakat.
Pejabat Fungsional Entomologi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengatakan tidak ditemukannya kasus rabies selama lebih dari dua dekade menjadi capaian positif dalam pengendalian penyakit bersumber binatang.
Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak serta-merta membuat PPU dapat disebut sebagai daerah bebas rabies.
“Rabies, alhamdulillah, walaupun banyak gigitan, vaksin antirabiesnya cukup,” ucap Ponco beberapa waktu lalu.
Menurutnya, ketersediaan vaksin antirabies menjadi bagian penting dalam mengantisipasi risiko penularan.
Masyarakat yang mengalami gigitan hewan berisiko tetap perlu mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur.
Ponco menjelaskan, selama periode 2005 hingga 2026 tidak terdapat kasus rabies yang dilaporkan di PPU. Karena itu, pengawasan tetap dilakukan untuk memastikan tidak muncul kasus baru.
“Dari tahun 2005 sampai sekarang tidak ada kasus rabies. Tapi saya enggak mengatakan bebas,” tegasnya.
Selain rabies, kondisi penyakit filariasis atau kaki gajah di PPU juga menunjukkan perkembangan positif. Dinkes PPU tidak menemukan kasus baru dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Ponco menyebut kasus filariasis terakhir ditemukan pada sekitar 2011. Setelah itu, pemerintah melakukan pengawasan dan intervensi secara massal pada 2012.
“Filaria juga dari tahun 2013 kita temukan, itu sudah tidak ada, enggak ada kasus baru lagi,” katanya.
Sementara itu, terkait penyakit kecacingan, Ponco mengatakan hingga saat ini tidak terdapat laporan kasus yang diterimanya di bidang penyakit bersumber binatang.
“Untuk kecacingan tidak ada terlaporkan ke saya,” ujarnya.
Ia menegaskan, informasi tersebut berada dalam lingkup penyakit yang menjadi kewenangannya, khususnya penyakit yang bersumber atau berkaitan dengan hewan.
Adapun persoalan kesehatan masyarakat lainnya, seperti stunting, berada pada bidang berbeda di lingkungan Dinkes PPU.
Dengan kondisi tersebut, Dinkes PPU tetap mempertahankan upaya surveilans dan kesiapsiagaan untuk mencegah munculnya kembali penyakit bersumber binatang.
Ketersediaan vaksin antirabies juga dipastikan menjadi salah satu bagian dari kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat. (Adv)










