PENAJAM — Tragedi serangan buaya kembali terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Selasa (12/5/2026).
Seorang perempuan bernama Sebena (58), warga RT 04 Kelurahan Buluminung, Kecamatan Penajam, ditemukan tewas setelah diduga diterkam buaya saat beraktivitas di kebun karet.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, membenarkan kejadian tersebut.
Ia menyebut laporan pertama diterima Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) pada pukul 13.59 Wita, setelah korban tidak kembali dari kebun seperti biasanya.
“Korban biasanya menyadap karet sejak pagi dan kembali sekitar pukul 11.00 Wita, namun hari itu tidak kunjung pulang hingga keluarga melakukan pencarian,” ujar Nurlaila, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, upaya pencarian awal dilakukan keluarga bersama warga dan aparat kelurahan di sekitar lokasi korban bekerja.
Namun, karena tidak membuahkan hasil, pihak kelurahan kemudian melaporkan kejadian tersebut ke BPBD untuk dilakukan pencarian lanjutan.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), Babinsa, Bhabinkamtibmas, pihak kelurahan, serta warga dan pihak perusahaan sekitar kemudian melakukan pencarian intensif di area sekitar kebun dan aliran sungai.
“Korban akhirnya ditemukan di area bendungan PT MHL, sekitar 700 meter dari lokasi awal menyadap karet. Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” jelas Nurlaila.
Ia menambahkan, kondisi tubuh korban menunjukkan tanda-tanda kuat serangan buaya, dengan sejumlah bagian tubuh hilang dan luka parah di beberapa bagian.
“Diduga kuat korban diterkam buaya karena terdapat luka serius, seperti bagian tubuh yang tercabik serta organ dalam yang terlihat akibat luka terbuka,” katanya.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Ratu Aji Putri Botung PPU sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Nurlaila menyebut, lokasi kejadian berada di kawasan rawa yang terhubung dengan aliran sungai kecil di sekitar bendungan, yang diduga menjadi habitat buaya.
“Agar kejadian serupa tidak terulang, kami akan melakukan upaya pengendalian, termasuk rencana perburuan buaya bersama pihak terkait dengan koordinasi perusahaan setempat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2026 hingga April, sudah terjadi tiga kasus serangan buaya yang menewaskan warga di PPU. Sebelumnya, korban juga tercatat di wilayah Kelurahan Pemaluan dan Sepaku.
“Imbauan sudah terus kami sampaikan agar warga waspada saat beraktivitas di sungai atau area rawan, termasuk pemasangan tanda peringatan, namun risiko di lapangan masih cukup tinggi,” tutupnya. (Afri)











