SAMARINDA — Universitas Mulawarman (Unmul) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) BIMA 2026 bertajuk “Program CARE-TB: Pemberdayaan Kader Kesehatan untuk Meningkatkan Kepatuhan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi Keluarga Pasien di Kota Samarinda.”
Program tersebut merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat - Pengabdian Masyarakat Pemula Tahun Anggaran 2026, yang didanai Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Program CARE-TB dipimpin Dr. apt. Vina Maulidya, dosen Fakultas Farmasi Unmul sekaligus praktisi apoteker. Tim pelaksana terdiri dari Erwan Ahmad, dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Unmul, serta dr. Aulia Nailufar Rizki, dosen Fakultas Kedokteran Unmul.
Program ini juga melibatkan mahasiswa S1 Farmasi, Riska Kiswati dan Aji Tiya, sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.
Pelaksanaan Program CARE-TB menggandeng Yayasan Penabulu Samarinda sebagai mitra sasaran dengan melibatkan 15 kader kesehatan sebagai agen perubahan di masyarakat.
Program tersebut turut mendapat dukungan para tim kader untuk memperkuat edukasi serta pendampingan keluarga pasien tuberkulosis.
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) menjadi strategi penting untuk mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit aktif, terutama bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB.
Namun, penerapannya di masyarakat masih menghadapi sejumlah kendala. Hasil identifikasi kebutuhan mitra menunjukkan sekitar 80 persen kader belum pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai TPT, sementara 73 persen masih mengandalkan penyuluhan verbal tanpa media edukasi.
Selain itu, belum tersedia media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang terstandar, ditambah masih adanya stigma terhadap TB di tingkat keluarga.
“Keberhasilan pencegahan TB tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kemampuan kader kesehatan dalam mendampingi keluarga pasien. Karena itu kami ingin membekali kader dengan pengetahuan, keterampilan komunikasi, serta media edukasi yang mudah digunakan saat melakukan kunjungan rumah,” ucap Dr. apt. Vina Maulidya.
Program CARE-TB dilaksanakan melalui lima tahapan utama, yakni sosialisasi dan koordinasi dengan mitra serta pemangku kepentingan; pelatihan kader mengenai TPT; penerapan inovasi media edukasi; pendampingan dan evaluasi implementasi; serta penguatan keberlanjutan melalui forum kader dan grup komunikasi berbasis WhatsApp.
Salah satu inovasi utama Program CARE-TB adalah pengembangan media edukasi yang dirancang khusus untuk mendukung kader saat berada di lapangan.
Produk yang dihasilkan meliputi Buku Saku Kader CARE-TB, leaflet edukasi keluarga, poster edukasi, video edukasi TPT, formulir monitoring sederhana, serta box obat portable untuk mendukung kunjungan rumah.
Media tersebut diharapkan membuat penyampaian informasi kepada keluarga pasien lebih konsisten, mudah dipahami, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh kader.
Program ini menargetkan seluruh 15 kader kesehatan berpartisipasi aktif dalam pendampingan keluarga pasien TB. Program CARE-TB juga menargetkan peningkatan pengetahuan kader hingga minimal 80 persen, pemahaman keluarga mengenai TPT hingga 75 persen, serta peningkatan kepatuhan menjalani TPT hingga 70 persen pada sasaran pendampingan.
Erwan Ahmad menilai pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan program.
“Kader kesehatan merupakan ujung tombak yang paling dekat dengan masyarakat. Ketika mereka memiliki kapasitas yang baik, edukasi kepada keluarga pasien menjadi lebih efektif dan berpeluang meningkatkan kepatuhan terhadap terapi,” katanya.
Sementara itu, dr. Aulia Nailufar Rizki menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam pengendalian TB.
“Pencegahan TB membutuhkan sinergi antara tenaga kesehatan, akademisi, kader, dan masyarakat. Program CARE-TB menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat menghasilkan solusi yang aplikatif di tingkat komunitas,” ujarnya.
Selain menghasilkan berbagai produk edukasi, Program CARE-TB juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa Unmul untuk terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan multidisiplin.
Keterlibatan mahasiswa diharapkan memperkuat proses pendampingan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan kesehatan masyarakat sejak dini.
Melalui program ini, Universitas Mulawarman berharap model pemberdayaan kader kesehatan dapat menjadi praktik baik yang direplikasi di wilayah lain, sekaligus memperkuat upaya bersama menuju eliminasi tuberkulosis di Indonesia. (Afri)













