BONTANG — Warga Bontang marah terhadap pembangunan batching plant di Jalan Pelabuhan Tiga, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kecamatan Bontang Selatan.
Warga RT 11 dan RT 14 pun tegas menolak pembangunan instalasi atau pabrik beton tersebut. Sebab sangat mengganggu.
Apalagi lokasinya tepat di belakang sekolah SMPN 3 Bontang. Bahkan jaraknya hanya sekitar 10 meter dari permukiman warga.
Belum lagi ada stok pile (persediaan material) berupa tumpukan koral yang diletakkan sangat dekat dengan rumah-rumah di kawasan itu.
Warga RT 11 Tanjung Laut Indah, Burhan, membeberkan pembangunan instalasi milik PT Tahta Indonesia Muda itu mulai terpantau jelang akhir Januari 2026.
Tiba-tiba Ada
Tapi proses pembangunannya tidak dibarengi dengan pemberitahuan atau sosialisasi kepada warga sekitar.
“Tiba-tiba dibangun sekitar tanggal 20-an Januari. Dalam tiga hari instalasi sudah terbangun tanpa ada sosialisasi,” ucapnya kepada awak media, Jumat 30 Januari 2026.
Senada, warga RT 14, Hasriani menyebut masyarakat khawatir jika instalasi terus beroperasi.
Sebab debu akan semakin banyak dan kebisingan mesin produksi akan mengganggu waktu istirahat warga.
Bahkan, aktivitas lalu lalang truk pengangkut material instalasi menyebabkan rumahnya bergetar hingga mengalami retakan.
“Sudah 10 tahun saya tinggal di sini. Baru kali ini ada pembangunan seperti ini. Khawatirnya anak-anak kami yang terdampak,” bebernya
Warga lainnya yang bermukim di RT 14, Odo, menyampaikan rumahnya lah yang paling dekat dengan lokasi instalasi.
Kata dia, setiap truk yang melintas menyebabkan getaran tanah yang cukup mengganggu aktivitasnya sehari-hari.
Bahkan lebih jauh dirinya menanyakan perizinan pembangunan tersebut. Karena sosialisasi kepada warga sekitar belum pernah dilakukan.
“Kami jelas menolak. Sosialisasi baru dilakukan di kelurahan tadi. Itu pun setelah banyak warga bersuara,” tandasnya.
“Seharusnya dibangun jauh dari pemukiman. Di sini saja sudah berdebu, masa mau ditambah lagi,” ungkapnya.
Pihak legal perusahaan tersebut pun mengaku telah mengantongi izin. Pun demikian dia mengaku pihaknya menyepakati hasil mediasi warga dengan perusahaan untuk memberhentikan sementara aktivitas instalasi tersebut. (Agu)











