Payload Logo
Jalan Sangatta Bengalon

Kondisi Jalan poros Sangatta-Bengalon. Dipotret pada Senin 19 Januari 2026 (dok: Caca/katakaltim)

Waspada! Puluhan Titik Rawan Longsor di Poros Sangatta–Bengalon

Penulis: | Editor: Agu
20 Januari 2026

KUTIM — Jalan penghubung Sangatta–Bengalon, Kabupaten Kutai Timur dalam kondisi rawan akibat longsor.

Dalam pantauan katakaltim, Senin 19 Januari 2026, sejumlah titik jalan nasional itu hanya aktif satu jalur.

Dampaknya kendaraan dari dua arah harus melintas bergantian.

Terpaksa harus mengantre dengan sistem buka-tutup. Diatur manual oleh pengguna jalan.

Katanya penanganan longsoran di kawasan itu bakal jadi prioritas tahun ini.

Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kaltim, Viasmudji Bitticaca mengaku sudah usulkan perbaikannya.

“Karena ini aset jalan nasional, sudah kami usulkan dan disetujui. Penanganannya masuk prioritas dan akan dilaksanakan tahun ini,” ucapnya.

Tahap awal anggaran yang disiapkan sekitar Rp5 hingga Rp5,5 miliar.

Masih bersifat estimasi karena proses kontrak belum berjalan.

“Perhitungan kami berdasarkan penanganan longsoran, rata-rata berkisar Rp100 juta sampai Rp150 juta per meter,” jelasnya.

Viasmudji menyebutkan, panjang longsoran prioritas yang akan ditangani sekitar 50 meter pada satu titik utama.

Namun keseluruhan, dari Sangatta hingga Simpang Perdauwi ada sekitar 16 titik rawan longsor dengan kategori berbeda.

“Ada longsoran minor yang masih bisa dilewati dan ada juga yang sifatnya prioritas karena sudah menggerus setengah badan jalan,” katanya.

Sambil menunggu pekerjaan utama, BBPJN tetap lakukan preventif supaya kerusakan tidak bertambah.

Misalnya pemasangan bronjong atau sandbag. Langkah ini untuk memastikan akses jalan tetap terbuka. Dan lalu lintas tidak terputus.

“Yang penting kami pastikan lalu lintas tetap berjalan, meskipun harus satu arah dengan sistem buka-tutup,” tambahnya.

Ihwal penyebab longsor, Viasmudji membeberkan ada sejumlah faktor.

Mulai dari kondisi tanah yang relatif lunak, beban kendaraan bertonase berat, hingga curah hujan ekstrem.

“Kondisi tanah di ruas itu memang tanah lunak, ditambah hujan ekstrem dan beban kendaraan. Itu kombinasi yang memicu longsoran,” tandasnya. (Caca)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025