Payload Logo
Anak kecil

Ilustrasi anak kecil sedang bekerja (dok: istimewa)

75 Persen Daging Kaltim Datang dari Luar, Sementara Anak Mudanya Ogah Ngarit

Penulis: Riyawan | Editor: Agung
12 Mei 2026

Penulis: Riyawan, Pengamat Sosial

KATAKALTIM — Kalau dengar kata ngarit, apa yang langsung terlintas di kepala kamu?

Buat sebagian orang, mungkin itu Cuma aktivitas cari rumput buat kambing atau sapi. Kegiatan desa yang identik dengan kehidupan kampung dan pekerjaan orang tua.

Bahkan nggak sedikit anak muda yang menganggap ngarit itu kuno, nggak keren, dan jauh dari kehidupan modern.

Padahal di balik aktivitas sederhana itu, ada cerita besar tentang kerja keras, ketahanan hidup, dan masa depan pangan Kalimantan Timur.

Cerita itu bisa dilihat dari sosok Eko Purwanto, remaja 16 tahun asal Kutai Kartanegara. Saat banyak anak seusianya menghabiskan sore dengan nongkrong atau main game, Eko justru keluar rumah sambil membawa arit dan karung besar.

Tujuannya bukan main-main. Dia pergi ke ladang untuk mencari rumput buat kambing peliharaannya.

Ketika ditanya apakah dia malu melakukan pekerjaan seperti itu, jawabannya sangat sederhana tapi menampar banyak orang.

“Untuk apa saya harus malu?”

Kalimat itu terdengar biasa saja. Tapi kalau dipikir lebih dalam, justru di situlah letak mental kuat yang mulai jarang dimiliki generasi sekarang.

Dan lebih dari sekadar kisah inspiratif, cerita Eko sebenarnya membuka satu persoalan besar yang sedang dihadapi Kalimantan Timur yakni ancaman ketergantungan pangan dan minimnya regenerasi peternak muda.

Pasokan Daging Masih Bergantung dari Luar

Kalimantan Timur saat ini sedang berada di titik penting sejarahnya. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membuat provinsi ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.

Jalan dibangun, investasi masuk, dan jumlah penduduk diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Tapi ada satu pertanyaan besar yang jarang dibahas serius. Kalau jumlah penduduk naik drastis, siapa yang akan memenuhi kebutuhan pangannya?

Masalah ini paling terasa di sektor peternakan. Saat ini kebutuhan sapi potong di Kalimantan Timur diperkirakan mencapai sekitar 40 ribu sampai 60 ribu ekor per tahun. Itu belum termasuk kebutuhan daging beku yang nilainya setara puluhan ribu ekor sapi tambahan.

Untuk kambing, permintaannya juga terus meningkat hingga sekitar 50 ribu ekor per tahun. Masalahnya, produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Populasi sapi lokal Kaltim masih berkisar sekitar 60 ribu–70 ribu ekor, dan sebagian besar belum siap potong dalam waktu cepat. Akibatnya, sekitar 75 persen kebutuhan daging masih bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti NTT, NTB, Sulawesi, hingga Pulau Jawa.

Efeknya langsung terasa di pasar. Harga daging di Kaltim sering lebih mahal dibanding daerah lain karena biaya distribusi dan logistik yang tinggi. Semakin jauh pengiriman, semakin tinggi juga harga jual ke masyarakat.

Dan tantangan ini diprediksi bakal semakin besar ketika IKN mulai dihuni lebih banyak orang. Permintaan makanan akan melonjak. Rumah makan bertambah. Hotel bertambah. Penduduk baru berdatangan. Konsumsi daging otomatis ikut meningkat.

Kalau dari sekarang produksi lokal tidak diperkuat, maka ketergantungan terhadap daerah lain akan semakin besar. Di sinilah sebenarnya peran peternak muda menjadi sangat penting.

Ngarit yang Dianggap Kuno

Banyak anak muda sekarang ingin kerja yang terlihat modern dan keren di media sosial. Padahal sektor peternakan sebenarnya punya peluang ekonomi yang besar, terutama di daerah berkembang seperti Kalimantan Timur.

Sayangnya, stigma terhadap pekerjaan seperti ngarit masih cukup kuat. Aktivitas mencari rumput untuk pakan ternak sering dianggap pekerjaan rendahan. Padahal kalau dilihat dari sisi filosofi dan budaya, ngarit punya makna yang jauh lebih dalam.

Tradisi ngarit sudah lama dikenal di masyarakat Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia. Aktivitas ini bukan Cuma soal memberi makan ternak, tapi juga melatih kesabaran, ketekunan, dan rasa tanggung jawab.

Orang yang ngarit harus bangun disiplin. Harus mau turun ke tanah. Harus siap berkeringat demi merawat hewan yang nanti menjadi sumber penghasilan keluarga. Ada juga filosofi menarik yang berkembang di masyarakat tentang ngarit.

Ketika seseorang mencari rumput, dia harus merunduk. Itu dianggap simbol kerendahan hati. Arit yang digunakan harus tajam, melambangkan pentingnya terus mengasah kemampuan diri.

Sedangkan jumlah rumput yang dibawa harus cukup, tidak berlebihan dan tidak kurang, sebagai simbol hidup yang seimbang.

Nilai-nilai seperti ini sebenarnya sangat relevan untuk kehidupan modern. Masalahnya, generasi muda sekarang lebih sering melihat pekerjaan peternakan sebagai sesuatu yang tidak menjanjikan.

Padahal realitanya justru sebaliknya. Permintaan daging terus naik. Pasar terbuka lebar. Dan kebutuhan peternak lokal semakin mendesak.

Kalau anak muda mau masuk ke sektor ini dengan pendekatan modern seperti memanfaatkan media sosial, pemasaran digital, hingga sistem peternakan yang lebih efisien dan peluangnya sangat besar. Apalagi Kalimantan Timur punya lahan luas yang potensial untuk pengembangan peternakan.

Mereka Simbol Harapan Baru Kaltim

Selain Eko Purwanto, ada juga sosok Andri Lukito dari Tenggarong Seberang yang punya cerita serupa. Masih muda, masih sekolah, tapi sudah serius memelihara kambing. Bahkan sebelum pandemi Covid-19, Andri pernah memiliki sekitar 20 ekor kambing. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran anak SMA.

Sayangnya pandemi membuat kondisi ekonomi keluarga memburuk sehingga sebagian ternak harus dijual demi bertahan hidup. Sekarang jumlah kambingnya memang berkurang. Tapi Andri tidak menyerah.

Dia tetap mencari rumput setiap sore, tetap merawat ternaknya, dan tetap punya mimpi membangun peternakan yang lebih besar suatu hari nanti.

Kisah Eko dan Andri sebenarnya membuktikan satu hal penting. Anak muda mampu menjadi peternak kalau diberi kesempatan dan dukungan.

Masalahnya, dukungan seperti itu masih sangat minim. Banyak program bantuan atau pengembangan ekonomi desa belum benar-benar menyentuh anak muda yang mau bekerja serius di sektor peternakan. Padahal mereka inilah yang justru punya energi, kreativitas, dan keberanian untuk berkembang.

Kalau pemerintah serius ingin membangun ketahanan pangan Kaltim, maka regenerasi peternak muda harus menjadi prioritas. Ada beberapa langkah yang sebenarnya bisa dilakukan.

Pertama, membangun komunitas peternak muda yang aktif dan modern. Anak muda hari ini dekat dengan media sosial, jadi pendekatannya juga harus mengikuti zaman. Beternak jangan lagi dipromosikan sebagai pekerjaan berat semata, tapi sebagai peluang usaha masa depan yang menjanjikan.

Kedua, membuka akses modal dan pelatihan yang nyata. Banyak anak muda mau memulai usaha ternak tapi terkendala biaya awal membeli kambing atau sapi.

Ketiga, memanfaatkan lahan eks tambang dan lahan tidur untuk pengembangan peternakan rakyat. Kalimantan Timur punya potensi besar di sektor ini kalau dikelola serius.

Keempat, memperkuat sistem kemitraan melalui koperasi desa, BUMDes, atau program CSR perusahaan besar agar peternak kecil tidak berjalan sendiri-sendiri.

Karena kalau tidak mulai sekarang, Kaltim bisa menghadapi masalah pangan yang lebih berat di masa depan. Ngarit mungkin terlihat sederhana. Cuma jalan ke ladang, memotong rumput, lalu pulang dengan karung di pundak.

Tapi di balik aktivitas itu ada semangat bertahan hidup yang luar biasa. Ada keberanian untuk bekerja tanpa malu. Ada mimpi tentang masa depan yang dibangun pelan-pelan dari bawah. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan Kalimantan Timur hari ini.

Bukan Cuma proyek besar dan gedung tinggi, tapi juga generasi muda yang mau turun langsung ke tanah, merawat ternak, dan membangun kemandirian pangan dari desa mereka sendiri.

Eko Purwanto dan Andri Lukito sudah memberi contoh. Mereka membuktikan bahwa anak muda tidak harus malu menjadi peternak.

Karena di masa depan, bisa jadi justru orang-orang seperti merekalah yang memegang peran penting menjaga ketahanan pangan Kalimantan Timur.

Dan mungkin benar kata Eko, “Untuk apa saya harus malu?” (*)

Disclaimer: Seluruh isi tulisan dikembalikan kepada penulis

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025