KUTIM — Indonesia tampaknya semakin panas. Akhir-akhir ini disuguhkan berbagai peristiwa politik, ekonomi, dan segala macam.
Salah satu yang menarik perhatian publik adalah film dokumenter dengan judul ‘Pesta Babi’. Bercerita tentang penderitaan rakyat Papua.
Berbagai komunitas sudah nonton bareng film ini. Sebagian dibubarkan. Tidak tahu kenapa. Mungkin saja mengganggu stabilitas negara.
Film ini adalah garapan kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Greenpeace Indonesia, Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, dan Pusaka Bentala Rakyat.
Sebagian isinya membongkar gurita bisnis di kawasan Papua. Menampilkan perjuangan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, yang kehilangan sumber kehidupan akibat deforestasi.
Penasaran dengan film tersebut, anak-anak muda di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) juga punya agenda nonton bareng.
Katanya bakal digelar oleh Jaringan Kerja (Jaker) Masyarakat Sipil Kutim. Menggandeng sejumlah organisasi masyarakat di Kutim.
Informasinya akan diselenggarakan pada Sabtu 16 Mei 2026 malam di Kantor Biro Kaltimpost, Jalan APT Pranoto, Sangatta.
Koordinator Jaker, Jufriadi mengatakan kegiatan ini jadi ruang diskusi bersama ihwal isu lingkungan, masyarakat adat, dan pengelolaan sumber daya alam.
“Ini akan jadi ruang belajar dan refleksi bersama bagi masyarakat di daerah yang hidup di tengah sumber daya alam melimpah seperti Kutai Timur,” ucapnya, Kamis 14 Mei 2026.
Jufriadi menyebut kegiatan nobar dan diskusi ini juga akan menghadirkan narasumber untuk membahas isi atau inti dari film dokumenter tersebut.
“Kita pastinya hadirkan beberapa pemateri sebagai pemantik diskusi,” kata Jufri.
Selain itu, panitia turut membuka donasi untuk pengungsi Papua yang nantinya disalurkan melalui lembaga sosial dan kemanusiaan.
“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi ruang bertukar pandangan dan memperkuat kepedulian terhadap isu lingkungan dan masyarakat adat,” singkatnya. (Cca)










