Payload Logo
Mojtaba Khamenei

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei (dok: istimewa)

Adu Kekuatan Iran dan Amerika Serikat, Trump Ngos-ngosan

Penulis: Agung | Editor:
24 Maret 2026

KATAKALTIM — Perbandingan kekuatan militer Iran dan Amerika Serikat kini tak lagi sebatas angka di atas kertas.

Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat rivalitas kedua negara semakin nyata, seiring pengerahan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat untuk menekan Teheran yang dituding mengganggu stabilitas kawasan.

Menukil data Global Firepower 2025, militer Iran menempati peringkat ke-16 dunia dari 145 negara dengan indeks kekuatan 0,3048.

Peringkat ini menempatkan Iran sebagai salah satu kekuatan militer paling dominan di Timur Tengah. Meski masih terpaut jauh dari Amerika Serikat yang secara konsisten berada di jajaran teratas dunia.

Dari sisi jumlah personel, Iran mengandalkan kekuatan manusia dalam skala besar. Negeri para Mullah ini memiliki sekitar 610.000 tentara aktif, 350.000 personel cadangan, serta 220.000 pasukan paramiliter yang tersebar di berbagai korps, termasuk Garda Revolusi Islam (IRGC).

Namun, ketimpangan mulai terlihat pada anggaran pertahanan. Iran hanya mengalokasikan sekitar USD15,45 miliar untuk sektor militer.

Angka ini sangat kecil ketimbang dengan Amerika Serikat yang memiliki anggaran pertahanan ratusan miliar dolar AS per tahun, terbesar di dunia.

Di udara, Iran memiliki total 551 pesawat, terdiri dari 188 jet tempur, 21 pesawat serang, enam pesawat tanker, dan 128 helikopter, termasuk 13 helikopter serang.

Sementara itu, Amerika Serikat menguasai langit dengan ribuan pesawat tempur modern, termasuk armada F-35 dan F-22, yang didukung teknologi siluman dan sistem tempur jaringan canggih.

Tapi kabarnya, berdasarkan laporan Maret 2026, sebuah jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat dilaporkan rusak setelah terkena tembakan Iran dan terpaksa melakukan pendaratan darurat di Timur Tengah. Menandakan sejarah yang mencengangkan.

Kembali pada topik. Kekuatan darat Iran juga tergolong masif, dengan 1.713 hingga 1.996 tank tempur, sekitar 65.825 kendaraan lapis baja, lebih dari 2.000 unit artileri tarik, serta 1.517 peluncur roket mobile.

Pun demikian, kualitas persenjataan Amerika Serikat yang lebih modern dan terintegrasi menjadikannya unggul dalam perang konvensional skala besar. Setidaknya itu adalah klaim.

Sebab berdasarkan fakta saat ini, Amerika Serikat ngos-ngosan menghadapi Iran. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah kesana-kemari meminta bantuan di berbagai negara, termasuk Eropa: NATO.

Kembali lagi ke topik. Di laut, Iran dilaporkan punya 107 unit armada tempur, termasuk 25 kapal selam, tujuh fregat, dan puluhan kapal patroli.

Amerika Serikat merespons ancaman ini dengan mengerahkan armada Angkatan Lautnya ke kawasan Timur Tengah, termasuk kapal serbu amfibi USS Bataan dan USS Carter Hall, serta ribuan marinir dan pelaut.

Bahkan USS Abraham Lincoln, Kapal Induk Amerika Serikat tengah dikerahkan. Tapi kabarnya juga dipukul mundur oleh militer Iran yang menjaga kawasan laut.

Lebih jauh, dari berbagai analisa yang dihimpun, keunggulan utama Iran terletak pada kekuatan asimetris. Teheran terus mengembangkan rudal balistik dan hipersonik, termasuk rudal Fattah yang mampu menembus sistem pertahanan udara musuh. Apalagi rudal Sijjil yang begitu menggemparkan.

Selain itu, jaringan drone Iran terbukti efektif dalam konflik regional dan melalui dukungan kepada kelompok proksi.

Bahkan dilaporkan, Garda Revolusi Iran (IRGC) telah meluncurkan ribuan drone selama satu pekan operasi militer (True Promise 4) yang menargetkan posisi AS dan Israel di kawasan.

Berbeda dengan Amerika Serikat dan sekutunya, Iran tidak memiliki senjata nuklir. Meski begitu, Barat dan Israel terus mencurigai program nuklir Teheran memiliki potensi militer.

Amerika Serikat sendiri mengandalkan keunggulan nuklir, sistem pertahanan global, serta dominasi teknologi untuk menjaga superioritas strategisnya.

Dengan kata lain, pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk jet tempur F-35, F-16, dan kapal penghancur rudal, menunjukkan pesan tegas kepada Iran.

Meski secara kuantitas Iran tampak kuat di wilayahnya, konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat berpotensi menjadi ujian paling berat bagi kemampuan militer Teheran dalam sejarah modern. Tapi itu adalah kabar yang disampaikan sejumlah media-media Barat.

Saat ini, Iran justru berada di atas angin. Bahkan baru-baru ini Donald Trump kena gertakan usai dirinya berniat menyerang fasilitas listrik Iran dan infrastruktur energi di negeri para Mullah itu.

Katanya pada 24 Maret 2026 pagi, Iran bakal menerima serangan yang luar biasa dari pihak Amerika. Namun sampai sekarang belum ada juga.

Bahkan dalam akun resminya, Donald Trump membatalkan atau menunda serangan tersebut lantaran mengklaim sedang melakukan negosiasi dengan Iran.

Tapi Iran membantah klaim tersebut. Bahwa Iran akhir-akhir ini tak pernah melakukan negosiasi dengan Gedung Putih.

Bahkan dalam sejumlah analisa, klaim Trump itu hanyalah sebuah alibi untuk menghindari tuduhan bahwa dirinya takut dengan ancaman Iran. Sebab Iran sebelumnya membalas ancaman Trump dengan ancaman pula.

Pada intinya, berdasarkan berbagai analisa, saat ini Amerika Serikat sangat ingin keluar dari peperangan ini. Di samping itu, Amerika juga amat sulit keluar dari perang ilegal ini. Iran sedang memegang kendali. (Agung)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025