Payload Logo
Unmul

Dosen Universitas Mulawarman menggelar program pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Samarinda Ilir (Dok: Afri/katakaltim)

Dari Pekarangan untuk Kesehatan, Unmul Kembangkan Herbal Antianemia di Samarinda

Penulis: Afri | Editor: Agung
17 Agustus 2026

SAMARINDA — Upaya mencegah anemia di masyarakat terus didorong melalui pendekatan edukasi sekaligus pemanfaatan potensi tanaman herbal lokal.

Hal itu dilakukan tim dosen Universitas Mulawarman (Unmul) melalui program pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Samarinda Ilir.

Program bertajuk “T-JUSMIA: Training Pembuatan Minuman Fungsional pada TP-PKK Kecamatan Samarinda Ilir sebagai Suplemen Alternatif untuk Mengatasi Anemia” tersebut menyasar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kecamatan Samarinda Ilir.

Kegiatan dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, KEMDIKTISAINTEK untuk pendanaan tahun 2026.

Tim pelaksana melibatkan dosen dan mahasiswa dari sejumlah program studi di Universitas Mulawarman, yakni S1 Farmasi Klinis, S1 Farmasi, dan D3 Farmasi.

Berawal dari Potensi Tanaman di Pekarangan

Program ini berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai anemia, dampaknya terhadap kesehatan, serta cara memanfaatkan tanaman obat yang tersedia di lingkungan sekitar.

Hasil survei lapangan tim menunjukkan sekitar 20 persen masyarakat setempat telah menanam berbagai tanaman herbal di pekarangan rumah, termasuk tanaman kelor.

Namun, keberadaan tanaman tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan maupun dikembangkan menjadi produk minuman herbal yang memiliki nilai ekonomi.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi tim Unmul untuk menghadirkan program yang tidak hanya memberikan edukasi kesehatan, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah tanaman herbal menjadi produk yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Program ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman obat berbasis teknologi dan inovasi,” demikian tujuan yang dirumuskan dalam program tersebut.

Edukasi Anemia hingga Potensi Tanaman Antianemia

Tahap awal kegiatan diisi dengan penyuluhan mengenai anemia, dampaknya terhadap kesehatan, serta kaitannya dengan stunting.

Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai potensi sejumlah tanaman herbal yang dapat mendukung upaya pencegahan anemia.

Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest berupa pertanyaan pilihan ganda. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti penyuluhan.

Peningkatan pengetahuan juga terlihat pada materi mengenai tanaman obat yang berpotensi mendukung pencegahan anemia.

Nilai rata-rata peserta meningkat dari 66,67 pada pretest menjadi 80 pada posttest setelah memperoleh materi mengenai tanaman obat yang dapat mendukung peningkatan kadar Fe serta aturan penggunaannya.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta mengenai anemia dan pemanfaatan tanaman herbal.

Dari Edukasi Menuju Pemberdayaan

Program T-JUSMIA tidak berhenti pada penyampaian informasi kesehatan. Tim Unmul juga mendorong masyarakat untuk melihat tanaman herbal di sekitar mereka sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk fungsional.

Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan dua manfaat sekaligus, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan anemia dan membuka peluang pemanfaatan tanaman lokal menjadi produk bernilai tambah.

Program yang dilaksanakan pada 2026 tersebut dipimpin apt. Noviyanty Indjar Gama, M.Biomed, dengan anggota Dr. apt. Helmi, dan Sabaniah Indjar Gama, serta melibatkan mahasiswa Universitas Mulawarman. Mitra kegiatan adalah TP-PKK Kecamatan Samarinda Ilir.

Melalui program tersebut, Universitas Mulawarman memperkuat peran perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu kefarmasian untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Di saat yang sama, potensi tanaman herbal lokal didorong agar tidak sekadar tumbuh di pekarangan, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan sekaligus memiliki peluang dikembangkan menjadi produk usaha masyarakat. (Afri)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025