KUKAR — Momentum libur Hari Raya Idulfitri dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata sekaligus belajar sejarah di Museum Mulawarman.
Museum Mulawarman alami lonjakan jumlah pengunjung dengan menghadirkan beragam koleksi kebudayaan khas Nusantara.
Kepala Tata Usaha UPTD Museum Mulawarman, Sugiyono Ideal, menyebutkan setiap musim libur Lebaran, jumlah kunjungan selalu meningkat signifikan, terutama dari kalangan keluarga.
“Sejak hari pertama Idulfitri, kunjungan meningkat cukup tajam. Rata-rata pengunjung harian bisa mencapai 500 hingga 700 orang, jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasa,” ucapnya di Kutai Kartanegara, menukil Antara, Jumat 27 Maret 2026.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, pengelola museum melakukan sejumlah pembenahan, diantaranya penataan ulang ruang pamer agar memberikan suasana baru dan lebih nyaman bagi pengunjung.
Selain itu, disediakan pula kios informasi di berbagai titik strategis untuk membantu pengunjung memahami koleksi secara lebih mendalam.
Tak hanya itu, Museum Mulawarman juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui peluncuran situs web resmi dan aplikasi telepon pintar yang memuat katalog koleksi serta informasi kegiatan.
Beragam koleksi unggulan ditampilkan untuk menarik minat pengunjung, mulai dari artefak kuno, patung, lukisan, hingga peninggalan berharga Kesultanan Kutai.
Miniatur rumah adat khas Kalimantan Timur, seperti dari wilayah Sambaliung, Kutai, hingga Paser, turut menjadi daya tarik tersendiri.
Secara keseluruhan, museum ini menyimpan lebih dari 5.000 benda bersejarah yang terbagi dalam berbagai klasifikasi, seperti arkeologi, etnografi, seni, geologi, hingga biologika.
Koleksi tersebut meliputi arca, prasasti, keramik, tekstil, serta berbagai benda budaya lainnya, termasuk senjata tradisional dan alat musik daerah.
Sejumlah koleksi favorit yang kerap menjadi pusat perhatian pengunjung di antaranya singgasana Raja Kutai, patung Lembuswana, alat pangkon, serta kelambu kuning.
Selain itu, koleksi keramik dari era Dinasti Tiongkok kuno dan senjata tradisional Suku Dayak juga tidak kalah diminati.
Sugiyono menegaskan, pihaknya akan terus berkomitmen mengembangkan layanan, termasuk memperluas platform digital agar masyarakat dari berbagai daerah dapat lebih mudah mengakses dan mengenal kekayaan sejarah yang dimiliki Museum Mulawarman.
“Pengembangan platform digital menjadi salah satu upaya kami untuk mendekatkan museum kepada masyarakat luas,” tutupnya. (*)











