SAMARINDA — Aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa dan Organisasi Masyarakat (Ormas) Kaltim pada 21 April 2026 lalu diduga disusupi oknum yang tidak dikenal.
Akibatnya, salah satu mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) bernama Ravino Indraya Anwar dari Fakultas Pertanian mengaku dipukul dan ditendang.
Koordinator Lapangan (Koorlap) aksi jilid 1 itu mengatakan terjadi represi dalam aksi tersebut. Tapi tidak diketahui sama sekali siapa yang melakukan tindakan itu.
"Saya terkena represi. Ada oknum di aksi itu yang memukul dan nendang saya. Saya ada di barisan depan waktu itu," ucap Anwar kepada katakaltim saat ditemui di Kota Samarinda, Kamis 7 Mei 2026.
Sebelum pemukulan, Anwar berupaya membuat suasana kondusif. Sebab saat itu beberapa pimpinan DPRD Kaltim bersedia menemui para demonstran.
"Saya sampaikan harap tenang semuanya sebentar lagi kita akan kedatangan pimpinan dewan yang ada di dalam, lima atau sepuluh menit mereka akan datang ke kita,” tuturnya.
Setelah Anwar menyampaikan pesan itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang juga ikut dalam barisan paling depan berkata kasar dan menarik baju Anwar sehingga Anwar terjatuh.
Saat terjatuh Anwar dipukul dan ditendang oleh beberapa orang tidak dikenal.
"Ditariknya baju saya kaya gini, terbanting ke bawah. Di situ lah terjadi pemukulan-pemukulan segala macam," bebernya.
Anwar mengaku bahwa ada beberapa demonstran yang mengamankan pelaku. Namun, pihak yang mengamankan pelaku, ternyata juga tidak ada yang mengenali identitasnya. baik dari mahasiswa maupun dari Ormas.
"Kami kemudian ke titik kumpul itu di Islamic Center. Sempat mediasi antara mahasiswa dan Ormas. Kami sempat diskusi tapi pihak Ormas juga tidak ada yang tau,” jelasnya.
Anwar berharap hal ini tidak mesti terulang kembali. Sebab tidak menutup kemungkinan di masa mendatang akan ada demonstran dari mahasiswa yang jauh lebih besar lagi.
“Kita harap ada yang seperti ini lagi. Ini bentuk intimidasi. Penyusup yang masuk ke para pengunjuk rasa,” tandasnya.
Diketahui, aksi ‘214’ lalu berhasil menurunkan sekitar 4 ribu lebih massa dari berbagai elemen organisasi.
Aksi itu menuntut agar DPRD menggulingkan hak angket sebagai bentuk upaya penyelidik terhadap sejumlah kebijakan Gubernur Kaltim.
Sampai saat ini, DPRD Kaltim masih ribut membahas masalah hak angket. Dikabarkan ada 6 fraksi bertanda tangan sepakat menggulirkan hal angket.
Sementara itu, Fraksi Golkar belum sepakat. Mereka hanya ingin mendahulukan hak interpelasi. Dengan alasan data masih belum konkret. (Wira Yuda)
















