KUBAR — Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kutai Barat (KPU Kubar) tepis dugaan yang menyatakan KPU kurang adil dan “main mata” dengan salah satu paslon kepala daerah Kubar.
Tudingan tebang pilih kepada KPU ini setelah gelaran debat antar paslon di Hotel Marcure Samarinda. Di mana ada indikasi pertanyaan panelis telah disetting dan dibocorkan kepada salah satu paslon.
Ketua KPU Kubar Rintar Pasaribu menepis dan mengatakan tudingan itu tidak berdasar. Justru mengaku pihaknya selama ini menjalankan proses Pilkada secara proporsional. Pun demikian, dia menilai tudingan tersebut merupakan hal biasa.
Baca Juga: Siap Berlaga di Pilkada, 3 Paslon Kepala Daerah Kubar Cabut Nomor Urut
“Biasa saja, yang jelas kami gak tau hal itu. KPU memberikan pelayanan secara berkeadilan terhadap 3 paslon, dan kita saksikan bersama pada saat debat, semua berjalan lancar. Setelah selesai juga tidak ada masalah, penuh dengan rasa kekeluargaan,” ucapnya kepada katakaltim, Jumat (18/10/2024).
Baca Juga: Disdikbud Kubar Menyebut 40 Sekolah Dapat Pembagian Meja dan Kursi
Pun dianggapnya sebagai tudingan tak berdasar, Rintar mengatakan tindakan itu harus dihargai sebagai upaya penyaluran pendapat. Terlebih era ini merupakan era demokrasi. Siapapun bisa melayangkan pandangannya.
“Namun, jika ada pendapat seperti itu ya gak masalah. Kan boleh. Dan juga kita hormati siapapun yang memberikan pendapat. Itulah sebuah demokrasi,” tukasnya.
Rintar mengemukakan, apa yang paling wajib bagi KPU dan seluruh penyelenggara adalah melayani dengan adil.
“Tapi, yang paling penting bagi KPU adalah wajib memberikan pelayanan secara adil kepada semua pihak. Dan pelayanan itu wajib dilandasi dengan aturan perundang-undangan,” pungkasnya.
Sebelumnya, KPU Kubar dinilai tidak bisa menjunjung tinggi netralitas, karena terindikasi condong ke salah satu Paslon dalam pelaksanaan Debat Publik pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat di Hotel Mercure, Samarinda, Senin (14/10/2024).
Sekretaris DPC Partai Hanura Kubar, Suryadi, pada Selasa lalu menilai ada settingan dalam debat paslon tersebut.
“Ada indikasi bahwa pertanyaan dari panelis bocor dan disetting, dengan dugaan bahwa waktu debat, ada salah satu paslon menjawab pertanyaan dari panelis itu, secara jelas terlihat membaca teks,” ucapnya. (*)