Balikpapan — Pascamomen libur panjang, arus kedatangan penduduk ke Kota Balikpapan masih terbilang landai. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) memastikan belum ada lonjakan signifikan jumlah pendatang yang mengurus administrasi kependudukan hingga awal April 2026.
Kepala Disdukcapil Balikpapan, Tirta Dewi, mengungkapkan bahwa berdasarkan rekap layanan pada akhir Maret lalu, jumlah pendatang yang tercatat masih berada dalam angka normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa mobilitas penduduk ke Balikpapan cenderung stabil, meskipun kota ini dikenal sebagai salah satu pintu masuk utama di Kalimantan Timur.
“Kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tidak ada peningkatan berarti. Data kami menunjukkan jumlahnya masih stabil. Ini menandakan sebagian besar pendatang hanya bersifat sementara atau transit,” ujar Tirta saat ditemui, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, posisi strategis Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) dan jalur transit menuju daerah lain seperti Penajam Paser Utara membuat arus keluar-masuk penduduk menjadi hal yang lumrah. Namun demikian, tidak semua pendatang memutuskan untuk menetap secara permanen.
Meski belum terjadi lonjakan, Disdukcapil tetap mengingatkan pentingnya pelaporan bagi warga pendatang, terutama yang tinggal dalam jangka waktu tertentu. Tirta menegaskan bahwa pelaporan tersebut bukan untuk membatasi mobilitas, melainkan untuk memastikan tertib administrasi kependudukan.
“Kami tidak melarang siapa pun datang ke Balikpapan. Tapi jika tinggal cukup lama, sebaiknya melapor ke RT atau langsung ke layanan kami sebagai penduduk non-permanen. Ini penting untuk pendataan dan pelayanan publik,” jelasnya.
Di sisi lain, Disdukcapil Balikpapan terus mengakselerasi program Identitas Kependudukan Digital (IKD) sebagai bagian dari transformasi layanan. Program ini dinilai semakin diminati masyarakat karena kemudahan akses dan efisiensi dalam pengurusan dokumen kependudukan.
Saat ini, layanan aktivasi IKD telah tersedia di puluhan titik layanan, termasuk kantor kelurahan di enam kecamatan. Bahkan, untuk menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan, Disdukcapil menerapkan metode jemput bola dengan turun langsung ke lapangan.
“Kami tidak hanya menunggu di kantor. Tim kami aktif turun ke wilayah, termasuk ke Balikpapan Barat. Selama satu bulan ke depan, kami fokus di Margasari untuk mendekatkan layanan ke masyarakat,” ungkap Tirta.
Lebih lanjut, pihaknya juga menggandeng ketua RT sebagai ujung tombak sosialisasi. Peran RT dinilai krusial karena memiliki kedekatan langsung dengan warga dan dapat mendorong partisipasi aktif dalam aktivasi IKD.
“RT kami libatkan sebagai mitra strategis. Mereka membantu menyampaikan informasi dan mengajak warga untuk segera mengaktifkan IKD. Dengan cara ini, kami optimistis cakupan layanan bisa semakin luas,” tambahnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Disdukcapil Balikpapan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya administrasi kependudukan terus meningkat, seiring dengan dinamika mobilitas penduduk di kota ini.(han/adv Diskominfo Balikpapan)











