KUTIM — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong masyarakat menanam cabai secara mandiri di pekarangan rumah sebagai salah satu langkah mengantisipasi gejolak harga cabai rawit dan cabai merah yang menjadi penyumbang utama pergerakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daerah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Kabupaten Kutim, Noviari Noor, mengatakan fluktuasi harga cabai masih menjadi perhatian pemerintah meski kondisi inflasi daerah secara umum dinilai stabil.
“Namun, IPH yang berfluktuasi ini masih didominasi oleh cabai rawit dan cabai merah yang harganya memang cukup tinggi,” ujar Noviari saat ditemui di Kantor Bupati Kutim, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah konkret untuk mengurangi dampak kenaikan harga cabai terhadap masyarakat.
Salah satunya dengan mendorong pemenuhan kebutuhan cabai dari lingkungan rumah tangga.
“Kita perlu mendorong program pendorong di tingkat masyarakat. Salah satunya adalah menggerakkan program menanam cabai secara mandiri di pekarangan rumah,” jelasnya.
Noviari menilai, budidaya cabai skala rumah tangga dapat menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan cabai di pasar.
Dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam cabai dan sayuran, sebagian kebutuhan bumbu dapur dapat dipenuhi secara mandiri.
Kondisi tersebut diharapkan turut mengurangi tekanan permintaan terhadap komoditas cabai di pasaran.
Ia mengatakan gerakan menanam cabai dan sayuran di tingkat rumah tangga terus disosialisasikan kepada masyarakat.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu menghadapi fluktuasi harga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Langkah menanam cabai dan sayuran skala rumahan ini terus kita sosialisasikan. Pemerintah ingin memastikan ketahanan pangan warga tetap terjaga sehingga lonjakan harga cabai di pasaran tidak terlalu berat membebani daya beli masyarakat,” pungkasnya. (Adv)














