Payload Logo
Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana Samarinda

Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana Samarinda, Cevi Wahyudi (dok:deni/katakaltim)

Intrusi Air Laut Berangsur Surut, Pelayanan Air Perumda Mulai Normal

Penulis: Deni Rahman | Editor: Salsabila Resa
16 September 2026

SAMARINDA - Perumda Tirta Kencana Samarinda mengklaim distribusi pelayanan air bersih mulai berangsur pulih.

Dari sepuluh Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang sebelumnya terdampak intrusi air laut, sembilan di antaranya telah beroperasi normal kembali.

Saat ini, hanya IPA Bantuas yang masih mengalami kendala operasional.

Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana Samarinda, Cevi Wahyudi, menjelaskan bahwa pemulihan berjalan bertahap seiring menurunnya kadar klorida pada air baku hingga di bawah ambang batas operasional 250 ppm.

“Tanggal 14 September hari ini sudah ke kondisi normal, sebelumnya tanggal 10 kita ada informasi krisis untuk aliran air yang sudah masuk ke IPA Tirta Kencana sampai IPA Seberang dan Gunung Lipan,” ujar Cevi, Senin (14/9/2026).

Berdasarkan Permenkes No.2 Tahun 2023 Tentang Kesehatan Lingkungan, parameter standar baku mutu air minum untuk kadar klorida maksimal 250 mg/L (ppm), lebih dari itu dinyatakan tidak layak konsumsi.

Sembilan IPA yang kini kembali berproduksi antara lain IPA Sungai Kapih, Selili, Kalhol, Pulau Atas, Tirta Kencana, Samarinda Seberang, Gunung Lipan, Palaran, dan Cendana.

Penurunan kadar klorida di titik-titik tersebut menandakan intrusi air laut mulai surut.

“Beberapa IPA sudah kembali, kloridanya memenuhi standar kita di bawah 250 ppm. Berarti intrusi air asin sudah mulai surut,” bebernya.

Di sisi lain, IPA Bantuas belum bisa beroperasi karena kadar klorida air baku di kawasan tersebut masih berada di kisaran 1.000 ppm.

“Cuma Bantuas saja yang tidak beroperasi karena kadar kloridanya masih tinggi. Tetapi untuk IPA Selili, IPA Kalhol dan IPA Pulau Atas sudah beroperasi normal,” ungkap Cevi.

Cevi memaparkan bahwa selama masa krisis, Perumda tidak menghentikan produksi secara penuh selama 24 jam, melainkan menyesuaikan durasi operasi dengan kondisi air baku.

Cevi mengaku, pengecekan kadar klorida dilakukan secara berkala dan ketat setiap 15 menit.

“Ketika krisis kita pantau 15 menit sekali. Ketika kloridanya menurun, kita produksi. Ketika naik, kita berhenti lagi,” tuturnya.

Meski mayoritas IPA berangsur beroperasi, Perumda tegaskan tetap memantau tren kualitas air baku hingga 10 hari ke depan untuk memastikan kestabilan pasokan.

“Kita pantau lagi 10 hari ke depan. Mudah-mudahan di hulu ada hujan, di Samarinda juga ada hujan, sehingga mudah-mudahan tidak ada lagi intrusi air asin,” ucapnya.

Terkait pasokan ke rumah warga yang belum merata, Cevi mengimbau pelanggan untuk bersabar menanti giliran.

Aliran air, kata Dia, memerlukan waktu untuk mengisi jaringan pipa yang sempat kosong selama periode pembatasan produksi.

“Kalau masih belum mengalir, mungkin masih untuk mengisi pipa-pipa kita yang kosong,” pungkas Cevi.

Perumda menyarankan masyarakat tetap menggunakan air secara bijak serta menampung air untuk mengantisipasi keterbatasan suplai air di kemudian hari. (Den)

Dilihat 711 kali