Payload Logo
Gerakan Tanam Nasional

Gerakan Penanaman serentak dalam rangka swasembada pangan oleh Kementerian Pertanian RI di Kota Samarinda, Jumat (3/7/2026) (dok: Ali/katakaltim)

Kaltim Ambil Bagian dalam Gerakan Tanam Nasional 50.000 Hektar, Dorong Peningkatan Produksi Pangan

Penulis: Ali | Editor: Agung
3 Juli 2026

SAMARINDA — Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia terus memperkuat langkah menuju swasembada pangan dengan melaksanakan Gerakan Percepatan Tanam Serentak seluas 50.000 hektare di 25 provinsi.

Dalam program nasional tersebut, Kota Samarinda ditunjuk sebagai lokasi pelaksanaan di Kalimantan Timur.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI, Muhammad Amin, menegaskan kegiatan tanam serentak merupakan upaya strategis pemerintah menjaga keberlanjutan ketersediaan pangan nasional sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

"Gerakan tanam 50.000 hektare yang dilakukan secara nasional di 25 provinsi ini bertujuan memastikan swasembada pangan berkelanjutan dapat terus diwujudkan, sehingga ketersediaan pangan selalu ada dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi," ucapnya, Jum’at (3/7/2026).

Untuk mendukung target tersebut, Kalimantan Timur telah memperoleh berbagai program pengembangan sektor pertanian.

Sejak 2025, pemerintah pusat mengalokasikan program Optimalisasi Lahan (Oplah) seluas kurang lebih 14.000 hektare serta program Cetak Sawah Rakyat (CSR) sekitar 1.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Kutai Timur, Paser, Mahakam Ulu, dan Berau.

Melalui program tersebut, lahan pertanian yang ada diharapkan dapat dimanfaatkan lebih produktif sehingga hasil panen meningkat dan ketergantungan terhadap pasokan beras dari daerah lain dapat ditekan.

Muhammad Amin menjelaskan, Samarinda dipilih sebagai lokasi pelaksanaan gerakan tanam karena menjadi salah satu wilayah yang telah menerima manfaat program optimalisasi lahan.

"Di Samarinda terdapat sekitar 400 hektare lahan yang masuk program optimalisasi lahan. Saat ini bahkan sudah memasuki indeks pertanaman (IP) ketiga. Ini menunjukkan program Oplah mampu meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun," jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan peningkatan indeks pertanaman di Samarinda tidak terlepas dari ketersediaan sumber air yang memadai serta dukungan Brigade Pangan yang melibatkan generasi muda dalam aktivitas pertanian.

Selain itu, pendampingan yang dilakukan penyuluh pertanian turut menjadi faktor penting dalam pelaksanaan program di lapangan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur, Fahmi Himawan, menyebutkan bahwa total alokasi program optimalisasi lahan di provinsi ini mencapai 13.973 hektare yang tersebar di enam kabupaten dan kota.

Untuk wilayah Samarinda sendiri, lahan yang mendapat dukungan program tersebut mencapai sekitar 440 hektare. Pengelolaannya turut diperkuat dengan keberadaan dua Brigade Pangan yang beroperasi di kawasan Makroman dan Lempake.

"Gerakan tanam serentak ini memang diarahkan pada lahan-lahan yang telah dilakukan optimalisasi lahan. Selain itu, program cetak sawah yang sudah memasuki masa tanam juga mencapai sekitar 1.000 hektare di empat kabupaten dan kota," katanya.

Fahmi menilai peningkatan luas tanam dan produktivitas lahan menjadi langkah penting dalam memenuhi kebutuhan beras daerah yang masih lebih tinggi dibandingkan produksi yang tersedia saat ini.

"Saat ini produksi beras Kaltim berada di kisaran 170 ribu ton, sementara kebutuhan mencapai sekitar 180 ribu ton. Karena itu berbagai program seperti optimalisasi lahan, cetak sawah, hingga peningkatan indeks pertanaman menjadi strategi utama untuk mengejar swasembada pangan," ungkapnya.

Di sisi lain, upaya peningkatan hasil produksi juga akan diperkuat melalui penerapan teknologi budidaya terbaru.

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kaltim, Ahmad Subhan, mengungkapkan bahwa metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) mulai diterapkan dalam kegiatan tanam serentak tahun ini.

Metode tersebut menggunakan pola tanam yang lebih padat dengan jumlah benih lebih banyak dibandingkan teknik konvensional, sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan.

"Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, metode PM-AAS berpotensi menghasilkan hingga 10 ton per hektare. Di Kaltim, rata-rata produksi saat ini masih sekitar 3,5 hingga 4 ton per hektare, sehingga target realistisnya bisa meningkat menjadi 6 sampai 7 ton per hektare," tuturnya.

Penerapan metode PM-AAS akan mendapat pendampingan dari sekitar 682 penyuluh pertanian yang tersebar di seluruh Kalimantan Timur.

Mereka akan bertugas mengawal penerapan teknologi di tingkat petani agar peningkatan produktivitas dapat tercapai dan target swasembada pangan daerah semakin mendekati kenyataan. (Adv)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025