Payload Logo
0-450020251125185013265.jpg

Petani usai memanen padi (dok: canva/katakaltim)

Kaltim Siaga Krisis Pangan, 3.000 Hektar Lahan Masih Terbengkalai

Penulis: Agu | Editor:
14 Agustus 2025

KALTIM — Pemerintah Provinsi Kaltim saat ini menyiapkan cadangan pangan sebanyak 506 ton beras.

Katanya, langkah ini sebagai upaya menangkal krisis pangan, akibat kemarau dan bencana lain yang bisa mengganggu stabilitas pangan di tingkat lokal.

Sejumlah wilayah, termasuk Paser, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kutai Barat, masuk dalam daftar daerah yang paling terdampak kekeringan.

Situasi ini menyebabkan menurunnya produksi pangan lokal dan meningkatkan risiko kerawanan pangan.

Kabupaten Mahakam Ulu juga menjadi salah satu prioritas penanganan krisis pangan tahun ini, karena acapkali mengalami lonjakan harga kebutuhan pokok yang signifikan.

Sekretaris Dinas Pangan, Tanaman dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Rini Susilawati, menjelaskan Kaltim saat ini berada dalam posisi siaga terkait krisis pangan.

Menurutnya, krisis pangan tidak saja bicara ketersediaan stok, tapi terkait distribusi dan harga.

"Kita sudah bergerak dengan beberapa upaya, yaitu peningkatan produksi lokal, peningkatan produktivitas, serta penguatan cadangan pangan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota," ujar Rini saat menjadi pembicara terkait Kaltim Siaga Krisis Pangan, Rabu (13/8/2025).

Upaya lain adalah mengurangi ketergantungan beras dari luar daerah, dan memastikan distribusi berjalan lancar.

Berdasarkan data, luas baku lahan sawah di Kaltim pada 2024 sekitar 46.640 hektare. Namun, tidak semuanya produktif.

Ada sekitar 3.000 hektare lahan yang terbengkalai, tergenang, atau ditumbuhi semak belukar.

"Tahun ini, kami mendapatkan alokasi program penguatan swasembada, yaitu optimasi lahan seluas sekitar 3.000 hektare di enam kabupaten dan cetak sawah sekitar 1.890 hektare," ungkap Rini.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) sehingga lahan yang sebelumnya hanya panen sekali bisa ditanami dua kali bahkan 2,5 kali dalam setahun.

Rini juga menekankan pentingnya percepatan tanam setelah panen untuk menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga tiga bulan ke depan.

Krisis pangan memang sebuah tantangan, tetapi juga merupakan peluang bagi Kaltim bisa mandiri dalam hal pangan.

“Dengan kolaborasi dan inovasi, diharapkan ketahanan pangan di Kaltim bisa tetap tangguh,” ucapnya. (*)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025